KEPEMIMPINAN PONDOK PESANTREN

03.58
Doktrin-doktrin Islam

Alqur’an merupakan undang-undang bagi kehidupan manusia, serta hidayah bagi orang yang berpedoman kepadanya, menjadi sarana pendekatan diri kepada Allah dengan cara membacanya. Dengan demikian, Al-Qur’an telah memberi pengaruh yang luar biasa bagi lahirnya berbagai konsep yang diperlukan bagi lahirnya berbagai konsep yang diperlukan manusia dalam berbagai bidang kehidupan. Dari sekian banyak masalah yang menjadi fokus kajian Al-Qur’an adalah masalah pendidikan. Melalui bukunya yang berjudul “Islamic Education :Qur’an Outlook”. Salih Abdullah Salih menyimpulkan bahwa Al-Qur’an adalah “Kitab Pendidikan”[4]

Beberapa ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan pendidikan di antaranya sebagi berikut :
Q.S Al-‘Alaq ayat 1-5

Menurut H.M Quraisy Shihab, bahwa kata iqra’ yang terdapat pada ayat ke-1 surat Al-‘Alaq terambil dari akar kata iqara’a yang berarti menghimpun. Dari kegiatan iqra’ dalam arti menghimpun ini lahir aneka makna seperti menyampaikan, menela’ah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca, baik teks tertulis ataupun tidak[5]

Selain perintah membaca dalam arti yang demikian luas itu, pada ayat tersebut (surat al-‘Alaq ayat 1-5) juga terdapat perintah menulis dengan pena dalam arti yang seluas-luasnya, seperti menulis biasa, merekam, memotret, mendokumentasikan, dan sebagainya.
Q.S Al-Fatihah ayat : 2

Di dalam surat Al-Fatihah ayat ke-2, dinyatakan al-hamdulillahi rabbil ‘aalamiin yang artinya bahwa segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Kata rabb sebagimana dikemukakan para ahli adalah berasal dari kata tarbiyyah yang berarti pendidikan. Imam Al-Maraghi ketika menafsirkan ayat tersebut mengatakan bahwa rabb adalah al-sayyid, almurabbi alladzi yasusu man yurabbihi wayudabbiruhu syu’unuhu, yang artinya sebagai pemelihara dan pendidik yang membimbing orang yang dididiknya dan memikirkan keadaan perkembangannya.[6]
Q.S Al-Jumu’ah ayat 2

Dalam ayat ini Rasulullah SAW yang bertindak sebagai penerima al-Qur’an, bertugas untuk menyampaikan petunjuk-petunjuk Al-Qur’an, menyucikan dan mengajarkan manusia. Menyucikan dapat diidentikkan dengan mendidik, sedangkan mengajar tidak lain kecuali mengisi benak anak didik dengan pengetahuan yang berkaitan dengan metafisika, serta fisika[7]

Adapun sumber hukum Islam yang kedua yaitu al-hadits, secara bahasa dapat diartikan maa kaana dlidl al-qadim (sesuatu sebagai lawan yang kuno). Dalam kaitan ini al-hadits berarti sesuatu yang baru. Dan dapat pula diartikan setiap perkataan yang diucapkan dan ditransmisikan melalui pendengaran atau lainnya baik dalam keadaan sadar atau tertidur. Dan tidak diragukan segala proses tersebut erat kaitannya dengan dunia pendidikan.

Untuk mewujudkan kepemimpinan yang sanggup membina dan menanggung resiko yang akan dihadapi sebuah lembaga pesantren ke depan, sudah tentu dibutuhkan pemimpin yang kuat imannya. Sehingga dapat memotovasi diri dan mengawasi apa yang akan dilakukan. Kekuatan yang bersumber dari iman itu akan melahirkan semangat jihad yang tinggi. Dan dari semangat jihad itulah yang akan mendatangkan pertolongan dari Allah SWT. Allah berfirman yang artinya :

”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar berserta orang-orang yang berbuat baik”(QS.Al-Ankabut:29)

Adapun esensi kepemimpinan menurut ajaran Islam adalah wewenang dan tanggung jawab. Islam menempatkan setiap orang adalah pemimpin dan pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya tentang kepemimpinannya.

Dapatlah kita simpulkan, bahwa konsep kepemimpinan dalam Al-Qur’an merupakan eksistensi manusia sebagai khalifah di bumi ini . Dengan kata lain mengimplementasikan secara positif hubungan vertical dengan Allah dan hubungan horizontal dengan sesama manusia[8]

Dalam Al-Qur’an sekurang-kurangnya ada lima syarat kepemimpinan yang harus dikembangkan :
Beriman dan bertaqwa (QS.Al-a’raf:96)
Berilmu pengetahuan (QS.Al-Mujadalah:11)
Mempunyai kemampuan menyusun perencanaan dan evaluasi (QS.Al-Hasyr:18)
Mempunyai kekuatan mental melaksanakan kegiatan (QS Al-Baqarah:147)
Mempunyai kesadaran dan tanggung jawab moral serta menerima kritik. (QS As-Shaff:3)
Read On 0 komentar

PERILAKU KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH

03.55
1. Kepemimpinan
Howard H. Hoyt seperti dikutip Kartini Kartono (2004: 57) mendefinisikan kepemimpinan sebagai seni untuk mempengaruhi tingkah laku manusia dan kemampuan membimbing orang. Robbins (2002: 163) menjelaskan bahwa kepe-mimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk men-capai suatu tujuan. Cribbins (1985:12) mendefinisikan kepemimpinan sebagai kemampuan memperoleh konsensus dan keikatan pada sasaran bersama, melam-paui konsensus-syarat organisasi, yang dicapai dengan pengalaman sumbangan dan kepuasan di pihak kelompok kerja. Widjaya menyatakan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi yang dapat dilepaskan dari posisi di dalam struktur organisasi formal (1985: 25). Ralph M. Stogdill (dalam Siswanto, 1990: 177) memberikan definisi kepemimpinan sebagai sebuah proses pengarahan dan mempengaruhi aktivitas yang dihubungkan dengan tugas dari para anggota kelompok.
Berdasarkan berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga unsur dalam kepemimpinan yaitu (a) pengikut/followership, (b) tujuan yang akan dicapai, dan (c) tindakan mempengaruhi.
Pandangan bahwa kepemimpinan merupakan proses mempengaruhi aktivitas seseorang atau kelompok yang kemudian disebut bawahan/pengikut untuk mencapai tujuan tertentujuga sesuai dengan pendapat Siswanto (1990: 177) yang menyatakan bahwa dalam pembahasan tentang pengertian kepemimpinan terdapat tiga hal yang perlu mendapatkan perhatian. Ketiga hal tersebut adalah (a) kepemimpinan harus melibatkan orang lain atau bawahan, (b) kepemimpinan mencakup distribusi otoritas yang tidak mungkin seimbang antara pimpinan dan bawahan, serta (c) kepemimpinan harus mampu mempengaruhi bawahan.
a. Kepemimpinan harus melibatkan orang lain atau bawahan
Hal ini disebabkan kesanggupan mereka untuk menerima pengarahan dari pimpinan, para bawahan membantu menegaskan eksistensi pimpinan, dan memungkinkan terjadinya proses kepemimpinan.
b. Kepemimpinan mencakup distribusi otoritas yang tidak mungkin seimbang di antara pimpinan dan bawahan
Pimpinan mempunyai otoritas untuk mengarahkan beberapa aktivitas bawahan yang tidak mungkin dilakukan dengan cara yang sama untuk menga-rahkan pimpinan. Artinya, pemimpin berhak memerintah atau memberi tugas pada bawahan, tetapi bawahan tidak berhak melakukannya.
c. Harus mampu mempengaruhi bawahan
Di samping secara legal mampu memberikan perintah atau pengarahan pada bawahan, seorang pemimpin juga dapat mempengaruhi bawahannya dengan berbagai sifat kepemimpinannya.
Untuk mampu menjalankan peranan kepemimpinan seseorang harus memenuhi berbagai kriteria seorang pemimpin. Lebih lanjut R.L Kahn (dalam Anoraga, 2001: 3) menyebutkan bahwa seseorang disebut sebagai pemimpin yang baik apabila ia dapat (a) memberikan kepuasan terhadap kebutuhan langsung para bawahannya, (b) menyusun jalur pencapaian tujuan, (c) menghilangkan hambatan-hambatan dalam mencapai tujuan, dan (d) mengubah tujuan individual karyawan sehingga tujuan mereka bisa berguna secara organisatoris.
Meskipun seseorang telah memiliki syarat untuk menjadi pemimpin yang baik, namun dalam praktiknya untuk mencapai tujuan organisasi, seorang pemimpin harus mendapat dukungan dari bawahan atau karyawannya. Apabila bawahan atau karyawan menghargai atau respek terhadap pemimpinnya maka mereka akan mengikuti pengarahan pemimpinnya dengan gembira dan kooperatif.


2. Kepemimpinan Kepala Sekolah
Kepemimpinan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam manajemen berbasis sekolah. Sebagai pemimpin di sekolah, kepala sekolah harus mampu menggerakkan seluruh sumber daya manusia untuk dapat bekerja secara maksimal agar dapat mencapai tujuan sekolah secara efisien.
Kepemimpinan yang diterapkan kepala sekolah sebagai pimpinan mem-punyai tanggung jawab untuk mengorganisasikan orang-orang, tugas-tugas, dan program-program yang ada di sekolah dalam rangka mencapai tujuan sekolah. Gorton (1997) menyatakan bahwa kepemimpinan kepala sekolah merupakan elemen kunci bagi keberhasilan sekolah. Dengan kata lain kepemimpinan menjadi faktor yang sangat penting dan menetukan keberhasilan sekolah dalam mencapai tujuannya.
Di negara maju kepala sekolah mendapat sebutan bermacam- macam. Ada yang menyebut guru kepala (head-teacher atau head-master), kepala sekolah (principal), kepala sekolah pensupervisi (supervising principal), direktur (director), administrator (administrator), pemimpin pendidikan (educational leadership) menurut Gorton (1976); Champbell, dkk, (1977); Blumberg & Greenfield (1980); Sergiovani (1987); Sergiovani & Elliot (1975); Dubin (1991); Cuolso dalam saran (1990); dalam Arifin ,I, (1998). Penyebutan yang berbeda ini menurut Wahjosumidjo (1997) disebabkan adanya kriteria yang mempersyaratkan kompetensi profesional kepala sekolah. Sebagai administrator, kepala sekolah harus mampu mendayagunakan sumber yang tersedia secara optimal. Sebagai manajer, kepala sekolah harus mampu bekerja bersama dan melalui orang lain dalam organisasi di sekolah. Sebagai pimpinan pendidikan kepala sekolah harus mampu menggerakkan semua potensi manusia untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Sebagai supervisor kepala sekolah wajib membantu guru meningkatkan kapasitasnya untuk membelajarkan murid secara optimal.
Sekolah adalah lembaga yang bersifat kompleks dan unik, karena itu memerlukan tingkat koordinasi yang tinggi. Dan sesuai dengan ciri-ciri tersebut maka tugas dan fungsi kepala sekolah seharusnya dilihat dari berbagai sudut pandang. Dari sisi tertentu kepala sekolah dapat dipandang sebagai pejabat formal, dari sisi lain kepala sekolah juga berperan sebagai manajer, sebagai pemimpin, sebagai pendidik dan sebagai staf menurut Wahjosumidjo (1999).
Sebagai pejabat formal, kepala sekolah mempunyai tanggung jawab terhadap bawahan untuk menciptakan hubungan yang sebaik-baiknya dengan para guru, staf dan siswa, sebab esensi kepemimpinan adalah kepengikutan. Sebagai manajer, kepala sekolah pada hakikatnya adalah seorang perencana, organisator, pemimpin dan seorang pengendali. Menurut Stoner dalam Wahjosumidjo (1999) ada delapan fungsi yang perlu dilaksanakan para manager dalam suatu organisasi, yaitu : (a). bekerja dengan dan melalui orang lain, (b). bertanggung jawab dan mempertanggungjawabkan (c). dengan waktu dan sumber yang terbatas mampu menghadapi persoalan (d). berpikir secara realistik dan konseptual, (e). adalah juru penengah, (f) adalah seorang politisi, (g) adalah seorang diplomat, dan (h) pengambil keputusan yang sulit.
Kepala sekolah sebagai seorang pemimpin harus mampu mendorong timbulnya kemauan yang kuat dan percaya diri pada guru, staf, siswa dalam melaksanakan tugas masing-masing dan memberi bimbingan, pengarahan kepada para guru, staf, maupun para siswa serta berdiri di depan demi kemajuan sekolah dan tercapainya tujuan. Kepala Sekolah sebagai pendidik harus mampu menanamkan, memajukan dan meningkatkan minimal empat macam nilai yaitu mental, moral, fisik dan artistik. Kepala sekolah sebagai staf, berarti kebe-radaannya di dalam lingkungan organisasi yang lebih luas berada di bawah kepemimpinan pejabat lain, baik langsung maupun tidak langsung, yang berperan sebagai atasan kepala sekolah. Sebagai pemimpin pendidikan dari sekolahnya, seorang kepala sekolah mengorganisasikan sekolah dan personil yang bekerja di dalamnya ke dalam suatu situasi yang efisien, demokratis dan kerja sama institusional yang tergantung keahlian para pekerja. Di bawah kepemimpinannya, program pendidikan untuk para murid harus direncanakan, diorganisasikan, dan ditata. Dalam pelaksanaannya program kepala sekolah yang baik harus dapat memimpin secara profesi para staf pengajar, bekerja secara ilmiah, penuh perhatian dan demokratis, dengan menekankan pada perbaikan belajar mengajar, dimana sebagian besar kreativitas akan dicurahkan untuk perbaikan pendidikan.


3. Ciri Kepemimpinan Kepala Sekolah yang Efektif
Keefektivan kepemimpinan kepala sekolah dapat diukur dari seberapa produktif dan efektifnya kepemimpinan yang dilakukannya dalam mencapai tujuan. Keefektivan tersebut terlihat dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai kepala sekolah untuk merealisasikan tujuan yang telah ditetapkan.
Sergiovanni (dalam Mulyasa,2007: 85) mengidentifikasikan ciri kepe-mimpinan kepala sekolah yang efektif adalah (a) Produktivitas; bagaimana peserta didik, guru, kelompok, dan sekolah pada umumnya mencapai tujuan yang telah ditetapkan; (b) Efisiensi; perbandingan individu dan prestasi sekolah dengan biaya yang dikeluarkan untuk mencapai tujuan tersebut; (c) Kulitas; tingkat dan kualitas usaha, tujuan, jasa, hasil, dan kemampuan yang dihasilkan oleh peserta didik dan sekolah; (d) Pertumbuhan; perbaikan kualitas kepedulian dan inovasi, tantangan, dan prestasi dibandingkan dengan kondisi masa lalu; (e) Ketidakhadiran; yang berkaitan dengan jumlah waktu dan frekuensi ketidakhadiran para peserta didik, guru, dan pegawai sekolah lainnya; (f) Perpindahan; jumlah perpindahan dan tetapnya peserta didik, kepala sekolah, dan pegawai lainnya; (g) Kepuasan kerja guru; bagaimana tingkat kesenangan yang dirasakan guru terhadap berbagai pekerjaannya yang dilakukannya; (h) Kepuasan peserta didik; bagaimana peserta didik merasa senang menerima pelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan; (i) Motivasi; Kekuatan, kecenderungan dan keinginan guru, peserta didik, atau pekerja sekolah untuk melibatkan diri dalam kegiatan atau pekerjaan sekolah. Hal tersebut bukanlah perasaan senang yang relatif terhadap hasil berbagai pekerjaan sebagaimana halnya kepuasan, tetapi lebih merupakan kesediaan atau kerelaan bekerja untuk mencapai tujuan pekerjaan atau sekolah; (j) Semangat; perasaan senang guru, peserta didik, dan personil sekolah lain terhadap sekolahnya, tradisi-tradisinya, tujuan-tujuannya, sehingga mereka merasa bahagia menjadi bagian atau anggota sekolah; (k) Kepaduan; bagaimna peserta didik dan guru-guru saling menyukai satu sama lain, bekerja sama dengan baik, berkomunkasi secara penuh dan terbuka, serta mengkoordinasikan usaha-usaha mereka; (l) Keluwesan dan adaptasi; kemampuan sekolah untuk mengubah prosedur dan cara-cara operasinya dalam merespons perubahan masyarakat dan lingkungan lainnya; (m) Perencanaan dan perumusan tujuan; bagaimana anggota sekolah merencanakan langkah-langkah pada masa yang akan datang dan menghubungkannya dengan perumusan dan penetapan tujuan; (n) Konsensus tujuan; bagaimana anggota masyarakat orang tua, dan peserta didik menyepakati tujuan yang sama di sekolah; (o) Internalisasi tujuan organisasi; penerimaan terhadap tujuan sekolah dan keyakinan para orang tua, guru, dan peserta didik bahwa tujuan sekolah itu benar dan layak; (p) Keahlian manajemen dan kepemimpinan; keseluruhan tingkat kemampuan kepala sekolah, supervisor, dan pemimpin lainnya dalam melaksanakan tugas-tugas sekolah; (q) Manajemen informasi dan komunikasi; kelengkapan, efisiensi, penyebaran, dan akurasi dari informasi dipandang penting bagi keefektifan sekolah oleh semua bagian yang berkepentingan termasuk guru, orang tua, dan masyarakat luas; (r) Kesiagaan; penilaian menyeluruh sehubungan dengan kemungkinan bahwa sekolah mampu menyelesaikan sesuatu tugas khusus atau mencapai beberapa tujuan khusus dengan baik jika diminta; (s) Pemanfaatan lingkungan; bagaimana sekolah berhasil berinteraksi dengan masyarakat, lingkungannya yang lain, serta memperoleh dukungan dan sumber daya yang langka dan berharga yang diperlukan untuk operasi yang efektif, (t) Penilaian oleh pihak luar; penilaian yang layak mengenai sekolah oleh individu, organisasi, dan kelompok dalam masyarakat yang berhubungan dengan sekolah; (u) Stabilitas; kemampuan sekolah untuk memelihara struktur, fungsi, dan sumber daya, sepanjang waktu, khususnya dalam periode-periode sulit; (v)Penyebaran pengaruh; tingkat partisipasi individu dalam mengambil keputusan yang mempengaruhi mereka secara langsung; (w) Latihan dan pengembangan; jumlah usaha dan sumber-sumber daya sekolah yang diperuntukkan bagi pengembangan bakat dan kemampuan guru, serta pegawai lannya.


4. Perilaku Kepemimpinan
Studi tentang kepemimpinan dengan menggunakan pendekatan perilaku kepemimpinan tidak digunakan untuk mencari jawaban tentang sifat-sifat pemimpin, tetapi untuk menentukan apa yang dilakukan oleh pemimpin yang efektif, bagaimana mereka mendelegasikan tugas, bagaimana mereka berkomunikasi, bagaimana mereka menjalankan tugasnya, dan sebagainya (Handoko, 1999). Handoko juga menambahkan bahwa pendekatan perilaku kepemimpinan memusatkan perhatiannya pada dua aspek yaitu (a) fungsi-fungsi kepemimpinan, dan (b) gaya-gaya kepemimpinan.
a. Fungsi-fungsi Kepemimpinan
Agar organisasi dapat berjalan secara efektif, maka seorang pemimpin harus melaksanakan dua fungsi utamanya yaitu fungsi yang berhubungan dengan tugas (task oriented) dan fungsi pemeliharaan kelompok.
Yukl (2007) menyebutkan bahwa perilaku kepemimpinan yang efektif akan melibatkan tiga perhatian atau tujuan berikut ini.
1) Berorientasi tugas. Jenis perilaku ini terutama memperhatikan penyelesaian tugas, menggunakan personil dan sumber daya secara efisien, dan menyelenggarakan operasi yang teratur dan dapat diandalkan.
2) Berorientasi hubungan. Jenis perilaku ini terutama memperhatikan perbaikan hubungan dan membantu orang, meningkatkan kooperasi dan kerja tim, meningkatkan kepuasan kerja, dan membangun identifikasi dengan organisasi.
3) Berorientasi perubahan. Jenis perilaku ini terutama memperhatikan perbaikan keputusan strategis, beradaptasi terhadap perilaku lingkungan, meningkatkan fleksibilitas dan inovasi, membut perubahan besar di bidang proses, produk, dan jasa, dan mendapatkan komitmen terhadap perubahan.

Read On 0 komentar

Pengaruh Bahasa Pergaulan Terhadap Pendidikan

03.44

Manusia adalah “homo significans” yang memberi makna hidupnya dalam budaya. Manusia selalu berusaha mengatasi lingkungannya dengan menciptakan suatu instrument simbolis untuk berkomunikasi dengan sesama. Salah satu instrumen terpenting adalah bahasa. Bahasa merupakan totalitas tanda baik lisan maupun tulisan yang dengannya, manusia dapat berinteraksi dan memberi makna pada lingkungannya. Dengan bahasa, manusia dapat berinteraksi dan bersosialisasi dengan yang lain dan menamai jagat ini.

Dalam makalah ini, penulis hanya memfokuskan pembahasan pada bahasa pergaulan atau tangue/bahasa ibu. Bahasa pergaulan mengambil peran yang sangat penting dalam kehidupan suatu kebudayaan sekaligus menentukan atau menunjukkan nilai-nilai dalam hidup bersama. Senada dengan pembatasan penulisan di atas, makalah ini pun mau menelusuri pengaruh bahasa pergaulan (tangue) terhadap kemampuan berbahasa para siswa SMP Pax Ecclesia. Apakah bahasa pergaulan ini membawa pengaruh yang positif dan efektif pada kemampuan berbahasa baku seturut Ejaan Yang Disempurnahkan. Apakah yang ditimbulkan oleh keduanya?

Masalah Bahasa Pergaulan Manusia hidup bersama dan dalam korelasi dengan yang lain. Manusia tidak sendirian. Karena kebersamaan inilah, manusia mesti membutuhkan suatu sarana untuk mengkomunikasikan dirinya dan bersosialisasi dengan yang lain. Inilah yang menjadi ciri manusia sebagai makhluk sosial. Urgensitas kebutuhan inilah yang menuntut manusia untuk menciptakan bahasa sebagai sarana dalam bersosial. Bahasa muncul sebagai pemenuh kebutuhan asali manusia untuk mengaktualisasikan dirinya sebagai makhluk sosial. Tanpa bahasa, manusia tidak mungkin memaknai segala yang ada di sekitarnya. Bahasa merupakan totalitas atau keseluruhan tanda baik lisan maupun tulisan, yang melaluinya manusia mengungkapkan segala perasaan, simpati dan keinginan atau pengetahuan kepada orang lain.

Di sinilah bahasa mengambil tiga (3) fungsi sekaligus yaitu fungsi komunikatif sebagai sarana untuk berkomunikasi, fungsi ekspresif yang memberikan kesaksian tentang kenyataan diri kita kepada orang lain dan fungsi deskriptif yakni menghasilkan pengetahuan tentang sesuatu.

Dalam suatu kelompok sosial, masyarakat menciptakan suatu bahasa pergaulan atau tongue untuk mengkomunikasikan segala yang hendak dikomunikasikan antara anggota kelompok tersebut. Ia menjadi begitu dekat bahkan melekat dalam diri anggota kelompok tersebut. Tanpa bahasa pergaulan, masyarakat tersebut tidak mungkin terbentuk menjadi suatu masyarakat. Ia menjadi syarat penting yang dengannya masyarakat secara bersama-sama bersepakat untuk membangun dan membentuk suatu masyarakat.

Karena relasi yang begitu dekat antara bahasa pergaulan atau tongue dengan masyarakat maka, bahasa juga menggambarkan dengan jelas nilai-nilai atau apa yang ada dalam masyarakat, seperti perkembangan masyarakat itu sendiri. Ia membahasakan dengan jelas karakter dan sikap masyarakat tersebut secara komunal atau kelompok. Dengan demikian, untuk mengetahui suatu kelompok, orang perlu mengenal dan mempelajari bahasanya.

Tidak berlebihan jika seseorang yang pandai berbahasa suatu bahasa, ia akan merasa diterima dan dihargai oleh kelompok pengguna bahasa tersebut. Misalnya, ketika kita sebagai orang Jogja pandai berbahasa Sunda di suatu lingkungan yang berbahasa Sunda, sudah pasti kita mudah diterima karena orang merasa dihargai dan dihormati.

Pengaruh Bahasa Pergaulan terhadap Pendidikan Formal di Sekolah

Ada beberapa indikator yang menentukan mengapa seseorang dalam hal ini para siswa sangat kuat dan erat bahasa ibu atau pergaulannya. Pertama, sejak dini atau lahir, anak sudah diperbiasakan dengan bahasa pergaulan. Proses pembiasaan ini akan sangat mempengaruhi perkembangan anak terutama dalam berbahasa. Bagi mereka, kesan atau pengalaman awal inilah yang sangat mempengaruhi proses perkembangannya ke depan. Sesuatu yang sudah dibiasakan akan sangat sulit untuk ditinggalkan atau diperbaharui. Kalau pun mungkin, proses itu butuh waktu yang cukup.

Kedua, lingkungan yang ada. Faktor lingkungan pun turut mempengaruhi perkembangan bahasa pada anak. Lingkungan tidak saja menjadi obyek atau tempat namun turut mempengaruhinya. Anak yang sudah dibiasakan dengan bahasa ibu atau pergaulan yang demikian dan berada di lingkungan yang sama dalam bahasa maka akan memunculkan daya ingat dan daya serap yang sangat kuat.

Kedua indikator inilah yang menimbulkan mengapa seorang anak akan sangat sulit melupakan bahasa ibu atau pergaulan. Pengaruh bahasa pergaulan ini akan jelas terlihat dalam pendidikan di sekolah sebagai proses lanjut dari pendidikan di rumah. Masalah kedekatan atau kekentalan bahasa pergaulan siswa di atas akan membawa kesulitan tersendiri pada kemampuan berbahasa siswa terutama dalam kemampuan berbahasa secara baku yakni sesuai Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Kesulitan itu meliputi :

1. Kemampuan berujar secara tepat. Kekuatan dan kemampuan bahasa pergaulan menghipnotis siswa begitu kuat hingga siswa terus saja membawanya dalam bahasa-bahasa resmi yang baku. Pengucapan beberapa kata akan terlihat janggal karena faktor pembiasaan dari rumah dan lingkungan yang sudah mengeras. Contoh, menyebutkan kata “pegang”. Siswa cenderung menyebutkan kata “pegang” dengan sebutan “pegang” dengan e seperti menyebutkan “keju”. Padahal sebutan yang tepat adalah “pegang” dengan e seperti menyebutkan “belajar”.

2. Selain itu, kelekatan pada bahasa pergaulan akan sangat menyulitkan anak dalam bahasa penulisan yang tepat. Anak cenderung menuliskan secara lurus apa yang dipikirkan termasuk kata-kata yang diadopsi dalam bahasa pergaulan tanpa suatu proses pengolahan yang tepat.

3. Penempatan tanda baca. Siswa yang sudah sangat kental bahasa pergaulannya, akan sulit juga untuk menempatkan tanda baca yang tepat terutama tanda baca koma. Proses pembiasaan bahasa pergaulan secara lisan sejak dini akan sangat sulit bagi para siswa ketika menterjemahkan bahasa lisan ke dalam bahasa tulisan secara tepat.

Dari beberapa tantangan berbahasa di atas, saya sebagai pengajar Bahasa Indonesia berusaha semampu mungkin untuk membiasakan anak berbahasa secara tepat yakni sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan. Ada beberapa solusi yang saya tawarkan antara lain :

1. Menyadarkan siswa akan perbedaan dan fungsi dari bahasa pergaulan dan bahasa yang baku. Upaya pembedaan ini dimaksud untuk mengajak anak menyadari porsi dan tempat yang tepat bagi penggunaan kedua bahasa tersebut. Kapan mereka harus menggunakan bahasa pergaulan dan kapan bahasa yang baku mengambil peran.

2. Sebagaimana bahasa pergaulan, proses berbahasa secara tepat yang sesuai dengan EYD pun membutuhkan suatu upaya pembiasaan. Artinya, anak dilatih untuk berbahasa secara tepat baik secara lisan maupun tulisan setiap saat setidaknya selama berada di sekolah. Pembiasaan ini akan sangat mempengaruhi perkembangan kemampuan berbahasa pada siswa.

3. Proses penyadaran dan pembiasaan ini membutuhkan suatu kekuatan atau sanksi yang mengikat semisal hukuman menuliskan suatu alinea atau paragraf dengan bahasa yang baku atau jenis sanksi yang lain bagi mereka yang menggunakan bahasa pergaulan tidak pada waktu dan tempatnya. Sanksi inipun mesti disepakati bersama agar tidak menimbulkan masalah baru dan sejauh tidak memberatkan para siswa.

Read On 0 komentar

Hasil UN Anjlok

03.42

PENGUMUMAN kelulusan siswa SMP dan SMA/SMAK disambut gerutuan dan cemoohan dari orang tua murid yang putra-putrinya diketahui gagal melewati standar angka yang telah ditetapkan secara nasional untuk mendapat predikat lulus. Raut kecewa sangat kentara, khususnya di sekolah yang jumlah siswa tidak lulus mencapai separuhnya.

"Kita sendiri tidak bisa berbuat apa-apa karena banyak faktor yang memengaruhi, tetapi jelas masalah ini menjadi perhatian khusus dan koreksi," kata Kepala Sekolah PGRI 1 Subang, Drs. H. Kusbini, M.Si. usai mengadakan pertemuan dengan orang tua siswa, sekaligus mengumumkan kelulusan di sekolahnya, Senin (16/6). Jumlah siswa yang tidak lulus memang mengejutkan mencapai 258 siswa dari 494 peserta atau 52,3%.

Hasil tersebut memang sangat mengejutkan karena lembaga itu jauh sebelum pelaksanaan UN sudah melakukan persiapan maksimal seperti mengadakan pelatihan dan pengayaan hingga dua kali agar siswanya dapat lulus. Pada saat persiapan tersebut, hasil uji coba cukup memuaskan, mencapai 97%. Bertolak dari angka itu, sekolah menargetkan untuk UN bisa 100%.

Jumlah peserta UN di Kabubaten Subang pada tahun 2008 ini untuk SMA/SMK berjumlah 8.648. Dari jumlah itu, siswa secara keseluruhan yang tidak lulus sebanyak 327 orang dan terbanyak dari siswa SMA 286 orang, sedangkan yang berasal dari SMK hanya 41 orang dari 3.566 siswa.

Kepala Dinas Pendidikan Kab. Subang, H.Makmur Sutisna W.D., M.M.Pd. yang dihubungi Selasa (17/6) mengatakan, secara persentase jumlah kelulusan untuk tingkat SMA mencapai 94,37% dari jumlah seluruh siswa yang ikut UN sebanyak 5.082 orang, sedangkan SMK mencapai 98,88%,

Hasil yang kurang menggembirakan terjadi pula di tingkat SMP karena angka kelulusannya menurun dibandingkan tahun sebelumnya, 2007. Sebagaimana dikatakan oleh Kasubdin SMP Diknas Subang, Drs. H. Suwarna, M.M.Pd. yang dihubungi Sabtu (21/6), dari jumlah peserta UN 16.894 yang tidak lulus sebanyak 129 orang atau 0,76%. Sementara data kelulusan tahun lalu menunjukkan, siswa SMP yang gagal melewati batas kelulusan sebesar 0,66 %, yaitu 105 orang. "Jumlah ketidaklulusan ini tidak termasuk dari tsanawiyah," kata H. Suwarna.

Cambuk dinas

Ketua Forum Aspirasi Guru Indonesia (FAGI) Kab. Subang, Edi Sugandi, S.Pd. yang dihubungi terpisah, Sabtu (21/6), mengatakan, peningkatan siswa yang tidak lulus akibat terlalu cepatnya pemerintah menambah jumlah mata pelajaran. Di Subang saja tidak sedikit para guru mengeluhkan ketidaksiapan siswa sehingga jauh sebelum pelaksanaan UN diadakan pengayaan dan berbagai upaya agar siswa mampu menyelesaikan soal-soal.

Begitu pelaksanaan, perasaan ragu, dan stres masih mendera sebagian peserta UN, terlebih ditambah dengan ketatnya penjagaan atau canpur tangan aparat kepolisian sehingga suasana seolah mencekam. Untuk itu, kata Edi, semuanya harus menjadi perhatian semua pihak, terutama soal penurunan yang tajam. Bila tidak, momentum pembelajaran pasca-UN akan lewat begitu saja.

Lebih lanjut, dia menambahkan, standardisasi melalui UN tidak hanya menghancurkan kinerja profesional guru, tetapi menurunkan moral pendidik, selain melahirkan kultur jalan pintas dan mekanisme yang mengurangi makna pendidikan menjadi sekadar lulus UN.

Di bagian lain pendapatnya, Edi menandaskan bahwa dengan fakta-fakta yang terjadi sekarang, UN hanya akan melanggengkan ketimpangan sosial karena sekolah papan atas, meski tidak mendapat banyak manfaat atas UN, akan semakin bertengger di atas. Sementara murid-murid di sekolah tidak bermutu, miskin, dengan tenaga pengajar pas-pasan, dan sarana minim akan semakin tersingkir. Ia khawatir siswa sekolah "pinggiran" akan menjadi tumbal tahunan gegap gempita UN. Situasi ini pada gilirannya akan menghancurkan kecerdasan kolektif yang dibutuhkan dalam persaingan global. "Ini membuktikan kalau semua yang terjadi merupakan cambuk dan bahan evaluasi bagi Diknas. Ternyata pendidikan belum bisa disamaratakan," kata Edi Sugandi.

Menurut dia, tugas pemerintahlah untuk menyempurnakan kebijakan pendidikan yang belum selesai. Tenggelam dalam persentase kelulusan tanpa mengkritisi kebijakan UN yang cacat secara mendasar dan kontraproduktif bagi pendidikan, maupun membiarkan korban UN berjatuhan setiap tahun merupakan perilaku kebijakan pendidikan yang tidak bertanggung jawab.

Di lain pihak, Kasubdin Menengah Diknas Subang, Drs. H. Triharjanto mengaku kaget dengan data yang diterima hingga pihaknya berusaha mengecek kembali hasil UN beberapa kali, baik ke Jakarta maupun provinsi. "Hasilnya tetap jeblok. Namun persoalannya, pihak dinas tidak bisa serta-merta masuk ke sekolah swasta karena ada batas. Kita hanya bisa memberikan hal-hal teknis berbeda terhadap sekolah negeri," kata dia. Ia pun menyayangkan, ketidaklulusan terbanyak itu berasal dari sekolah yang dijagokan dan berharap ke depan akan ada perubahan.

Bagi siswa yang tidak lulus UN, baik dari tingkat SMA/K dan SMP, kata Kadisdik Kab. Subang, H. Makmur Sutisna W.D., M.M.Pd. akan diikutsertakan pada ujian nasional pendidikan kesetaraan ( UNPK) atau Paket C setara SMA yang akan dimulai periode I, 24-27 Juni 2008. "Jumlah yang mengikuti UNPK dari siswa yang tidak lulus UN dan yang mengulang seluruhnya 343 orang," kata Makmur dan tidak menyebutkan seluruh peserta UNPK yang berasal dari PKB atau pendidikan luar sekolah lainnya.

Ketua FAGI, Edi, mengkhawatirkan pula siswa yang mengikuti UNPK tidak dapat mengejar waktu pendaftaran ke perguruan tinggi. Namun, Ketua Yayasan Kutawaringin, H. Komir Bastaman, M.Si. berharap siswa yang mengikuti UNPK tenang karena bila akan melanjutkan ke perguruan tinggi di Subang pun, pihaknya siap menerima.

Read On 0 komentar

Arsip Tulisan

Bisnis Internet | Bisnis Online | Uang dari Internet |  Duit gratis | komisi 80%
Pulsa Gratis | Pulsa Murah | Pulsa Handphone | Isi Pulsa


Masukkan Code ini K1-36DCA9-9
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Followers