Wah, 200.000 Anak Miskin Bakal Sekolah Gratis!

09.05

JAKARTA, KOMPAS.com - Jangankan di pelosok desa, anak-anak miskin di perkotaan pun punya mimpi yang sama untuk bisa mengenyam pendidikan yang layak. Pendidikan layak bisa menghindarkan mereka dari kemungkinan menjadi pekerja anak ataupun anak jalanan (anjal).

Hal tersebut dikemukakan oleh Direktur Eksekutif Indonesian Street Children Organization (ISCO) Ramida H.F. Siringoringo, di sela jumpa pers '10 Tahun ISCO Berkarya' di Jakarta, Selasa, (30/6). Ramida menambahkan, masalah kemiskinan di Indonesia sampai hari ini masih menjadi "pekerjaan rumah" yang belum juga terselesaikan, akibatnya pemerataan pendidikan pun ikut bermasalah.

"Jadi sebelum anak-anak miskin itu menjadi pekerja anak atau menjadi anak jalanan, kita harus mendahuluinya melalui upaya pemberian sekolah gratis," ujar Ramida.

Selama 10 tahun ini, ISCO telah membantu memberikan pendidikan gratis kepada anak-anak miskin kota. Tercatat, mulai Juli 2009 nanti, ISCO sudah memberikan pendidikan gratis bagi 2.000 anak miskin dari 26 wilayah kumuh di tiga Provinsi, yaitu DKI Jakarta, Jawa Timur, serta Sumatera Utara.

"Bantuan sebesar satu juta rupiah per tahun untuk tiap anak mulai TK hingga SMA, mulai uang pangkal, SPP, buku pelajaran, bahkan seragamnya, tetapi jika si siswa ingin terus kuliah tetap kami arahkan tanpa ada biaya," ujar Ramida.

Sementara itu, menurut pendiri ISCO Josef Fuchs, mimpi semua anak adalah sama. Selama masih banyak anak yang berada di jalanan, baik sebagai pengamen, pemulung, pengemis, dan sebagainya untuk bekerja dan tidak sekolah akibat kemiskinan hidupnya, selama itu pula semua pihak punya tanggung jawab mewujudkan mimpi anak-anak tersebut.

"Banyak pihak mendukung kami, untuk itu sepuluh tahun mendatang kami bertekad membantu pendidikan gratis bagi 200.000 anak di Indonesia," ujar Josef.
Read On 1 komentar

Anak Jalanan, Hilangnya Tanggung Jawab Pemerintah

09.03

JAKARTA, KOMPAS.com - Banyaknya anak jalanan di Jakarta karena pemerintah membiarkan terjadinya arus urbanisasi. "Penyebab banyaknya anak jalanan di Kota Jakarta akibat kurangnya upaya pemerintah mencegah urbanisasi," kata Direktur Eksekutif Yayasan ISCO (Indonesian Street Chlidren Organization) Ramida Siringoringo di Jakarta, Sabtu (11/7).

Urbanisasi yang berlangsung sejak lama di Kota Jakarta, lanjut dia, terjadi akibat banyak masyarakat pedesaan yang tergiur bekerja di ibukota karena menganggap Jakarta sebagai tempat yang baik untuk mengadu nasib."Banyak masyarakat di pedesaan yang menjual lahan pertanian kemudian mengadu nasib ke ibukota. Namun, setelah sampai di Jakarta mereka akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa sehingga menjadi bagian dari penduduk miskin. Kondisi itu diperparah karena pemerintah tidak mau mengurusi," ujar Direktur Eksekutif Yayasan ISCO, yayasan yang banyak membantu dana pendidikan bagi anak jalanan,.

Salah satu upaya mencegah terjadinya urbanisasi ke kota Jakarta menurut Ramida Siringoringo yakni pemerintah harus membuka lapangan kerja seluas-luasnya di pedesaan. "Jika lapangan pekerjaan ada di daerah mereka, tidak mungkin masyarakat dari pedesaan berlomba-lomba mengadu nasib ke Jakarta," ujar Direktur Eksekutif Yayasan ISCO tersebut

Berdasarkan data Badan Pusat Stistik (BPS), jumlah penduduk miskin di Indonesia mengalami peningkatan pada 2008 yakni mencapai 41, 2 juta jiwa. "Selain akibat arus urbanisasi, meningkatnya angka kemiskinan juga disebabkan kenaikan harga kebutuhan pokok dan tidak stabilnya perekonomian dunia yang berimbas pada meningkatnya kemiskinan di Indonesia," katanya.

"Ironisnya, dampak kemiskinan orang tua mereka dirasakan oleh sebagian besar anak sehingga banyak di antara mereka hidup dan tumbuh keras di jalanan tanpa merasakan sentuhan pendidikan sebagai fundamental dasar dalam meraih cita-cita mereka kelak," ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Pendiri Yayasan ISCO, Josef Fuchs mengungkapkan, ISCO menargetkan akan membantu 200.000 anak kurang beruntung untuk ikut mengenyam pendidikan seperti anak lainnya.

"Setelah membantu 2000 anak selama 10 tahun ini, kami akan lebih banyak lagi memberikan bantuan pendidikan dan kesehatan kepada anak-anak kurang beruntung di Indonesia untuk dapat mewujudkan cita-cita mereka," kata Josef Fuchs.
Read On 0 komentar

Peran Strategis Orangtua Asuh dalam Kembangkan Prestasi Anak

08.56


JAKARTA, KOMPAS.com - Orangtua asuh dan guru mempunyai peran yang strategis untuk mengembangkan prestasi anak asuhnya. "Karena, orang tua asuh dan guru yang berinteraksi dengan anak asuh," kata Direktur Eksekutif Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Jakarta, Mohammad Isnaini Mohammad Isnaini di sela-sela acara "Jambore Anak Sholeh 2009", di Bumi Perkemahan, Ragunan, Jakarta Selatan, Sabtu (11/7).

Ia mengatakan, sebagai lembaga amal zakat nasional BMH hanya dapat memberikan dana dan membina bagi anak dari keluarga tidak mampu namun bisa mempertahankan prestasi mereka di sekolah. Dia menjelaskan pula bahwa kegiatan Jambore Anak Sholeh juga diharapkan bisa menjadi sarana untuk merekatkan kasih sayang antara orangtua dan anak asuh karena selama ini masih banyak orang tua asuh yang belum mengenal anak asuhnya.

Manajer Divisi Pemberdayaan BMH Jakarta, Rama Wijaya menjelaskan, peran orangtua asuh dan guru sangat penting terhadap perkembangan prestasi anak. Menurut dia, jika anak asuh tidak mampu mempertahankan prestasinya dan mengalami penurunnya, maka beasiswa yang dia terima akan diganti anak berprestasi lainnya.

BMH dalam tahun ini memberikan beasiswa kepada 449 anak asuh dari tingkatan anak sekolah dasar hingga tingkat Mahasiswa di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Menurut dia, jumlah anak asuh yang mendapatkan beasiswa tersebut mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya 551 anak asuh.

Namun, BMH pada semester kedua tahun ini akan menambah sebanyak 200 anak asuh penerima beasiswa dan 100 anak di antaranya, sudah diterima pada semester pertama."Anak asuh yang mendaftarkan pada semester pertama ada seribuan anak. Tapi, yang diterima dan masuk kriteria anak berprestasi hanya 100 anak asuh," katanya.

Menurut dia, menurunnya jumlah anak asuh yang menerima beasiswa, karena BMH telah mendirikan sekolah gratis ditingkat SMP. BMH merencanakan pada Juli ini, peluncuran pertama perguruan tinggi yakni Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah.
Read On 0 komentar

Menyoal Sisi Negatif Quick Count

08.42
TENGAH hari pada hari pilpres kemarin, beberapa lembaga survei telah mengumumkan hasil quick count. Di antaranya, LSI (Mega-Pro 26,5 persen; SBY-Boediono 60,8 persen; JK-Win 12,6 persen), Lingkaran Survei Indonesia (Mega-Pro 27,3 persen; SBY-Boediono 60 persen; JK-Win 12,6 persen), LRI (Mega-Pro 27,1 persen; SBY-Boediono 59,6 persen; JK-Win 12,6 persen), dan LP3ES (Mega-Pro 27,6 persen; SBY-Boediono 59,9 persen; JK-Win 12,4 persen).

Dari keempat lembaga survei itu, jelas pasangan SBY-Boediono diprediksi memenangi Pilpres 2009 satu putaran saja. Apa signifikansi hasil quick count tersebut terhadap pilpres yang proses penghitungannya baru akan dimulai?

Di satu sisi, setidaknya hasil itu telah membuktikan wacana yang selama ini berkembang, yakni persoalan pilpres satu putaran saja. Di sisi lain, hasil survei tersebut jelas mengendurkan semangat para capres yang berlaga. Meskipun quick count bukanlah akhir karena masih sebatas prediksi, sejujurnya hasil itu membuat shock sebagian kalangan, terutama pasangan capres dan pendukungnya.

Pertanyaan pentingnya, sejauh mana tingkat independensi sekian lembaga survei yang melakukan quick count tersebut? Apakah benar-benar independen ataukah benar anggapan serta opini masyarakat umumnya selama ini yang menyebut bahwa lembaga survei itu hanyalah kepanjangan tangan kepentingan politik penguasa?

Hal itu penting dicermati supaya proses demokrasi dalam masyarakat tidak dinodai kehadiran lembaga survei. Di satu sisi, lembaga survei memang masih dibilang baru dan perannya oleh sebagian kalangan sangat dibutuhkan. Di sisi lain, hendaknya kepercayaan tersebut tidak dinodai oleh penggiat lembaga survei.

***

Selama ini, eksistensi lembaga survei muncul ke permukaan dan popularitasnya sangat dominan di masyarakat. Survei-survei maupun polling-polling yang telah dilakukan, baik untuk pemilu legislatif maupun pilpres sekarang ini, sejujurnya sangat memengaruhi opini publik.

Begitu pula, pada pemilu-pemilu lokal untuk memilih gubernur maupun bupati, lembaga survei selalu berada di garda depan untuk melakukan survei maupun polling. Pendeknya, semua lembaga survei naik daun dan diminati tim-tim sukses, baik dari parpol maupun calon-calon pemimpin.

Tak kurang, tingkat popularitas lembaga survei juga dibarengi kontroversi yang menyelimuti. Misalnya, masyarakat luas menganggap lembaga tersebut tidak netral dari politic of interest tim sukses untuk memenangkan pemilihan. Selain itu, kinerja lembaga survei dianggap hanya menjadi the opinion makers, yang hendak memengaruhi pemilih terhadap salah satu parpol maupun calon pemimpin.

Tak ayal, lembaga survei tidak malah menumbuhkan iklim demokratisasi publik, melainkan menebar kebohongan publik lewat hasil-hasil survei maupun polling yang dibuat.

Di Amerika, sebagai negara bapak demokrasi, kontroversi lembaga survei ternyata juga terjadi. Lembaga survei dianggap lebih tertarik pada industrialisasi dan bisnis atau pembentukan opini publik dengan menarik perhatian media massa ketimbang mengungkap opini publik yang sesungguhnya.

Salah satu lembaga survei terbesar di AS bernama Gallup Poll yang dianggap sebagai think-thank pembentuk opini publik lewat survei maupun polling-polling-nya. Gallup ditengarai berselingkuh dengan kekuasaan yang menginginkan tercapainya kesuksesan politik di Negara Paman Sam.

Lewat buku berjudul The Opinion Makers: An Insider Exposes The Truth Behind The Polls (2008), misalnya, yang ditulis David W. Moore, terbongkar kebobrokan lembaga survei itu. David adalah mantan orang dalam Gallup Poll yang seakan-akan berbalik arah (turn around) menguliti lembaga survei paling kontroversial tersebut.

Buku yang ditulis David nyaris mirip dengan karya John Perkins (Confession of An Economic Hitman, 2005), yakni kesaksian orang dalam yang mencoba ''bertobat'', lalu mendeskripsikan kebobrokan lembaga yang semula menjadi tempat kerjanya.

David pernah bekerja di Gallup sejak Maret 1993 sampai April 2006. Pada 2008, buku The Opinion Makers terbit kali pertama di AS dan langsung direspons para penggiat lembaga-lembaga survei di sana. David dianggap telah menjilat ludah sendiri karena mengisahkan kinerjanya selama ini.

Kontroversi Gallup Poll saat David masih bekerja adalah sewaktu Konvensi Partai Republik. Saat itu, Bush unggul 3 persen, lalu naik 7 persen setelah konvensi, kemudian bertambah lagi 6 persen sepuluh hari berikutnya hingga akhirnya mengungguli elektabilitas Senator John Kerry dari Partai Demokrat dengan 55 persen versus 42 persen.

***

Lembaga seperti Gallup Poll sebenarnya menjadi renungan bagi lembaga survei di Indonesia supaya melakukan kinerja secara lebih profesional dan bersikap independen. Di satu sisi, masyarakat Indonesia masih membutuhkan lembaga survei. Di sisi lain, kepercayaan itu hendaknya tidak dipersalahgunakan.

Sebab, bagaimanapun, Indonesia baru dua kali melaksanakan pemilu yang benar-benar dilakukan secara langsung dan demokratis. Kiranya awal ini tak dinodai dengan lembaga survei yang bekerja tidak profesional, melainkan demi industrialisasi dan bisnis semata.

Hasil lembaga survei ditengarai membingungkan masyarakat. Kondisi tersebut membuat masyarakat kurang percaya terhadap hasil survei yang dinilai tidak independen lagi. Terbukti, sejumlah lembaga survei terkesan ingin menggiring opini publik ke arah kontestan pilpres tertentu. Padahal, hasil survei merupakan salah satu instrumen penting dalam demokrasi. Karena itulah, sudah seharusnya hal tersebut tidak dicederai oleh perilaku para penggiat lembaga survei.

Jika merasakan impresinya, secara perlahan masyarakat tampaknya mulai sadar dan berhati-hati terhadap lembaga survei. Mereka lambat laun tak mau terpengaruh lagi oleh opini publik yang ditebar lembaga survei. Semoga ini akan menjadi titik di mana masyarakat benar-benar menjadi demokratis dan lembaga survei akhirnya benar-benar bekerja secara profesional dan independen. (*)

*). Ismatillah A. Nu'ad , peminat historiografi Indonesia modern, tinggal di Jakarta
Read On 0 komentar

Kekalahan Elite Struktural NU

08.42
ELITE struktural NU kembali menuai kekalahan politik. Setelah kalah dalam pilgub Jatim dan Pilpres 2004, kini mobilisasi struktural NU yang all-out mendukung JK-Wiranto kembali kandas. Padahal, keterlibatan politik elite struktural NU kali ini terhitung vulgar dan bahkan "berani pasang badan".

Saya pakai istilah ''berani" karena keterlibatan mereka berbeda dengan momentum pilpres sebelumnya. Jika pada Pilpres 2004 para elite struktural NU masih terkesan berlindung di balik khitah 26 -masih memperdebatkan wacana boleh tidaknya mereka terlibat dalam politik praktis-, kali ini konsep khitah terkesan sudah diabaikan. Ketua Umum PB NU KH Hasyim Muzadi, misalnya, selain aktif memobilisasi dukungan struktural NU, juga menjadi salah satu ''aktor iklan" capres JK-Win di beberapa surat kabar.

Bahkan, Rais Syuriah PW NU Jawa Timur KH Miftakhul Akhyar menyampaikan sikap politik paling vulgar dalam sejarah khitah 26. Dalam Harlah Ke-83 NU yang diadakan PC NU Tuban di Asrama Haji Tuban Kamis (25/6) Kiai Miftah mengatakan siap pasang badan demi kemenangan capres JK-Wiranto.

"Saya akan menanggung risiko jabatan akibat pasang badan ini," tegas Kiai Miftah di depan warga NU seperti dikutip media massa. Sikap Kiai Miftah itu menarik karena syuriah adalah lembaga penentu kebijakan tertinggi sekaligus pengawal tradisi, termasuk khitah 26.

***

Sikap politik vulgar tersebut memantik protes dari beberapa elite struktural NU di tingkat kabupaten dan kota. Ketua PC NU Kota Madiun KH Dimyati, misalnya, seperti dilansir media massa, menyatakan tak setuju dengan sikap politik dukung-mendukung PB NU-PW NU tersebut. Dia mengatakan bahwa langkah tersebut menyalahi khitah 26. Namun, sikap kritis yang mengingatkan ke ''jalan yang benar" itu bagaikan setetes air di padang pasir. Hilang dalam sekejap, tak berbekas.

Sebenarnya Rais Aam Syuriah PB NU KH Ahmad Sahal Mahfud berkali-kali mengeluh soal keterlibatan para pengurus PB NU dalam politik praktis. Ketika Kiai Hasyim terlibat dalam mobilisasi dukungan pilgub Jawa Timur, Kiai Sahal bersuara keras di media massa. Dia memprotes sikap Kiai Hasyim yang dianggap telah menyalahi khitah 26. Sedemikian kerasnya sikap Kiai Sahal sampai dia menyatakan tak akan mau lagi berpasangan dengan Kiai Hasyim jika dalam Muktamar NU mendatang para muktamirin masih memercayai dirinya sebagai rais aam. Kiai Sahal juga menyatakan bahwa dirinya kini memperjuangkan khitah 26 sendirian karena pengurus PB NU yang lain sudah tak peduli.

Namun, sikap keras Kiai Sahal itu ternyata tak dibarengi sikap tegas secara struktural organisatoris. Padahal, sebagai rais aam, beliau punya otoritas besar untuk memperbaiki keadaan mengingat syuriah adalah lembaga tertinggi dalam NU. Karena itu, beberapa tokoh NU menyayangkan sikap Kiai Sahal yang tak memanfaatkan otoritasnya untuk melakukan langkah korektif terhadap tanfidziyah. Bahkan, salah seorang tokoh NU mengatakan bahwa sikap Kiai Sahal itu tak berbeda dengan pengamat yang hanya bisa berkomentar di media massa.

***

Khitah 26 kini memang seolah tinggal kerangka kosong. Khitah tidak saja tak dipatuhi, lebih dari itu bahkan diabaikan. Ironisnya, sikap mengabaikan khitah 26 tersebut tidak dilakukan warga NU awam di pedesaan, tapi justru dilakukan elite struktur NU dari top leader PB NU, PW NU, sampai PC NU dan ranting.

Nah, bertolak dari realitas tersebut, kini muncul pertanyaan, masih perlukah kita mempertahankan khitah 26? Kalau khitah 26 itu sudah dianggap tidak relevan dengan situasi sosial politik sekarang, mengapa harus dipertahankan? Bukankah hanya akan membuat orang hipokrit (munafik). Di satu sisi mengaku berpegang pada khitah, tapi pada sisi lain dia melakukan politik praktis.

Atau paling tidak, hal tersebut hanya membuat warga NU bingung dan terus mengumpat elite NU karena mereka dianggap tidak konsisten dan hanya pandai yahannu (basa-basi).

Perlu diingat, bukankah konsep kembali ke khitah 26 itu juga "produk politik" untuk merespons situasi sosial politik yang dianggap tidak menguntungkan NU, terutama pada Orde Baru? Kalau sekarang situasi politiknya berubah, mengapa khitah 26 tidak kita kaji ulang? Bukankah hanya Alquran dan hadis yang tak boleh kita ubah?

Karena itu, pada Muktamar NU yang sudah di depan mata, khitah 26 perlu dievaluasi secara kritis dan komprehensif dengan bertolak dari kepentingan utama jamiyah dan jamaah NU. Bukan kepentingan elite NU semata.

Memang gagasan mengevaluasi khitah 26 itu akan memunculkan pertanyaan antitesis, misalnya, jika sekarang dipagari khitah 26 saja para elite NU masih melanggar dan terlibat dalam politik praktis, apalagi jika tanpa khitah 26? Apakah mereka nanti tidak semakin seenaknya dan sewenang-wenang memanfaatkan NU untuk kepentingan politik?

Mengevaluasi khitah tidak identik dengan menghapus khitah 26. Sebaliknya justru memunculkan tiga kemungkinan alternatif. Pertama, bisa jadi muncul kelompok yang memang ingin menghapus khitah 26 agar elite NU bebas berpolitik. Kalau alternatif itu menjadi pilihan mayoritas muktamirin, kenapa tidak?

Kedua, juga kemungkinan muncul kelompok abu-abu. Artinya, secara konseptual, mereka ingin mempertahankan khitah 26. Tapi, dalam praktiknya mereka tetap ingin main-main dengan tafsir sesuai kepentingan mereka.

Nah, ketiga, bisa jadi sebagian besar muktamirin justru ingin merevitalisasi khitah 26 secara istikamah. Dengan begitu, tak ada multitafsir khitah seperti sekarang. Artinya, siapa pun elite politik yang terlibat politik praktis harus mundur, bukan nonaktif, terutama di jajaran top leader-nya.

Jadi, dengan konsep ''khitah istikamah", elite NU yang jadi pengurus di organisasi keagamaan itu terseleksi secara alami. Yaitu, hanya orang-orang yang berniat murni-tulus-ikhlas berkhidmat untuk umat (terutama warga NU) dan agama (Islam). Bukan orang yang mencari status sosial, apalagi posisi politik dan sekadar nunut urip. (*)

*) M. Mas'ud Adnan, mahasiswa Ilmu Politik Pascasarjana Unair dan Sekjen PP Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng
Read On 0 komentar

Dua Mahasiswa UI Temukan Teknologi Ubah Suara Jadi Tulisan

08.40
Sadar Baskoro dan Amalia Zahria pa­ham betul bahwa teknologi informasi akan semakin lengket dengan kehidup­an manusia. Itu pula yang melatarbelaka­ngi mereka untuk mengembangkan ha­sil penelitian terbarunya.

Menurut mereka, teknologi yang bi­sa mengenali suara manusia dan mengu­bah­nya dalam bentuk teks sebenarnya su­dah ada. Namanya sistem pengenal sua­ra otomatis (SPSO/speech recognition). ''Tapi, tidak dalam bentuk baha­sa Indonesia. Karena itu, kami me­ngem­bangkannya. Ke depan, kami ingin me­ngembangkan bahasa daerah seperti Jawa, Sunda, maupun Batak,'' je­las Sadar.

Sejatinya, penelitian itu merupakan ba­gian dari tugas akhir kedua mahasis­wa tersebut. Ketika itu, penelitian terse­but masih berupa konsep. Beberapa bu­lan kemudian, mereka mulai me­ngem­bangkan konsep itu dengan mengapli­kasikan secara riil sistem pengenal suara tersebut.

Dia menyebutkan, tujuan penelitian itu adalah meneliti lebih lanjut berbagai kom­ponen pada sistem pengenal suara. Con­tohnya, kamus fonetik, model akustik, dan bahasa.

Sadar lantas memeragakan kinerja sis­tem tersebut. Dia membuka aplikasi sistem itu. Kemudian, di layar kompu­ter muncul aplikasi program SPSO de­ngan beberapa menu. Dia mengeklik menu record (perekam). Lantas, dia ber­ucap, ''Ingin makan nasi goreng'' di depan speaker yang merupakan bagian dari perangkat sistem tersebut.

Hanya beberapa detik setelah itu, ke­luarlah teks saya makan nasi goreng di monitor komputer. Teks yang keluar persis dengan yang dia ucapkan.

Menurut Sadar, semakin banyak data sua­ra yang dimasukkan, semakin tinggi akurasi teks yang dihasilkan. Dengan demikian, peran keyboard tidak di­perlukan lagi. ''Cukup mengatakan apa yang ingin Anda sampaikan, teksnya akan keluar sendiri,'' tuturnya.

Menurut dia, program tersebut memang ber­tolak belakang dengan sistem yang su­dah dikembangkan bagi penderita tu­nanetra. Sistem yang digunakan untuk tunanetra justru menghasilkan bunyi ketika tuts keyboard dipencet. Suara yang keluar menjadi sinyal bagi user agar tidak salah mengetik huruf. Sebaliknya, sistem yang dikembangkan Sadar dan Amalia itu menghasilkan teks berupa tulisan.

Sadar menjelaskan, metodologi penelitian tersebut menggunakan sistem pe­ngolahan korpus suara dan teks. Teks diolah sedemikian rupa, sehingga tak ha­nya menghasilkan bunyi, tapi juga ta­tanan bahasa. Artinya, kata dia, output teks yang keluar otomatis sudah se­suai tatanan bahasa Indonesia.

Melalui sistem pengolahan tersebut, dihasilkan sistem pengenal suara bahasa Indonesia. Eksperimen yang dipakai untuk menghasilkan tulisan menggunakan suara manusia. Selain bisa berbicara langsung di depan speaker, data suara bisa diperoleh melalui rekaman telepon maupun radio. ''Dengan demikian, kita bisa meninggalkan pesan dalam bentuk teks,'' tuturnya.

Melalui penemuan itu, komputer bisa menghasilkan 181.500 kata. Cukup besar untuk meninggalkan pesan panjang atau membuat sebuah tulisan.

Untuk mengerjakan aplikasi SPSO tersebut, Sadar dan Amalia harus bekerja cukup keras. Sebab, akurasi teks yang dihasilkan awalnya tidak seakurat hasil yang ada saat ini. ''Membutuhkan beberapa kali percobaan. Namun, untunglah hasilnya cukup memuaskan,'' ujarnya. Sadar bersama rekannya ingin mengembangkan penelitian tersebut lebih lanjut.

Lantaran cukup berhasil, Sadar dan Amalia diminta Depdiknas untuk mengembangkan beberapa penelitian sistem suara. Salah satunya, sebuah penelitian untuk membantu kinerja KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Kendati demikian, Sadar belum mau membeberkan bentuk penelitian yang akan dikerjakan. (nw)
Read On 0 komentar

Anggota G-8 Siapkan Dana Rp 200 Triliun untuk Bantuan Pangan

08.40
L'AQUILA - Pertemuan puncak delapan negara maju yang tergabung dalam G8 menghasilkan kesepakatan signifikan. Dimotori Presiden AS Barrack Hussein Obama, G8 sepakat mengguyur dana USD 20 miliar (sekitar Rp 200 triliun) secara bertahap selama tiga tahun untuk bantuan pangan, terutama bagi Afrika. Dana sebesar itu dikucurkan berkat perjuangan Obama yang minta bantuan dinaikkan dari semula USD 15 miliar (sekitar Rp 150 triliun).

''Tidak ada alasan bagi Afrika tidak bisa mandiri jika berurusan dengan makanan,'' tutur Obama setelah berakhirnya pertemuan puncak G8 di L'aquila, Italia, seperti dikutip Reuters kemarin (10/7). ''Kami percaya bahwa pemberian dana itu bertujuan menciptakan kondisi menjadi mandiri, melengkapi kebutuhan, dan memberikan standar kehidupan,'' imbuh Obama.

Tambahan USD 5 miliar dianggap pantas untuk mengatasi kelaparan, khususnya di Afrika. AS menyumbang USD 3,5 miliar. Seluruh dana itu digunakan untuk membantu petani Afrika agar bisa meningkatkan kemampuan pertanian. ''AS memproduksi jagung dan mengirimkannya ke masyarakat yang kelaparan. Tetapi, konsep baru ini adalah memproduksi jagung di Afrika dan bukan di AS,'' imbuh Presiden Senegal Abdoulaye Wade.

Menurut Kana Nwanze, presiden Badan Dana Internasional untuk Perkembangan Pertanian (IFAD), bantuan itu sebagai dasar untuk perubahan pemikiran dari sebuah komunitas dunia. ''Beri ikan dan dia akan memakannya dalam sehari. Ajari memancing dan dia akan makan selama hidupnya,'' tegas Nwanze. Berdasar data PBB, jumlah penderita malnutrisi meningkat pada dua tahun terakhir menjadi 1,02 miliar tahun ini. Resesi global juga dapat memperburuk keadaan.

World Food Programme menyambut dengan tangan terbuka sumbangan tersebut. ''Kami tahu cara terbaik mengatasi kemiskinan. Yaitu dengan menumbuhkan sektor pertanian,'' kata Oliver Bus­ton, direktur Grup Anti-Ke­miskinan Eropa ONE. Setidaknya 500 juta petani skala kecil di du­nia dapat memproduksi 80 persen makanan untuk populasi di seluruh dunia. Karena itu, pertanian dianggap amat penting.

Afrika sendiri sebenarnya membutuhkan tambahan dana USD 25 miliar selama tiga tahun ke depan. Hingga kini, G-8 hanya memenuhi 3 persen dari total bantuan tahunan USD 50 miliar yang dicanangkan pada 2005-2010.

Kesepakatan lain dalam pertemuan yang diselenggarakan di kota yang pernah mengalami gempa 6 skala Richter itu adalah perluasan anggota G-8. ''Saya pikir kita berada di periode transisi. Kita mencoba menemukan bentuk tepat,'' kata Obama. Pendapat itu disambut Presiden Prancis Nicolas Sarkozy. Dia setuju agar G-8 menjadi G-14 atau G-20. Namun, PM Jepang Taro Aso menentangnya. Dia menganggap anggota G-8 belum saatnya diperbesar lantaran ma­sih berperan penting dalam me­ngambil keputusan.

Dalam pertemuan itu, negara berkembang memang menuntut peran lebih besar lagi dalam percaturan ekonomi global. Negara berkembang yang diwakili Tiong­kok, India, Brazil, Meksiko, dan Afrika Selatan yang tergabung dalam G-5 juga mempersoalkan pe­ran mata uang dolar AS yang dianggap sudah tidak mampu lagi menjalankan fungsinya sebagai nilai tukar internasional.

G-8 beranggota Amerika Serikat, Jepang, Italia, Inggris, Pran­cis, Jerman, Kanada, dan Rusia. Selain delapan negara anggota, KTT G-8 yang ditutup kemarin juga melibatkan sejumlah pema­ng­ku kepentingan. Antara lain PBB, Bank Dunia, dan Dana Mo­­neter Internasional (IMF). Di luar itu, G-8 juga mengundang be­­berapa negara. Di antaranya, Spanyol, Belanda, Turki, Libya, dan Indonesia yang diwakili Menteri Perdagangan Mari Elka Pa­ngestu. (Rtr/AP/AFP/war/oki)
Read On 0 komentar

UIN MALIKI Malang dalam Penerimaan Mahasiswa Baru 2009

04.40
Animo tinggi

Dalam rangka mengakomodasi animo masyarakat yang tinggi terhadap keinginan melanjutkan pendidikan tinggi bagi lulusan SLTA atau sederajat. Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UIN Malang meluncurkan situs yang berkaitan dengan penyelenggaraan PMB tahun akademik 2009/2010.

Selangkah lebih maju

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pada tahun akademik 2009/2010 UIN Malang menggunakan layanan PMB online. Diharapkan dengan layanan PMB online ini, masyarakat dimudahkan segala urusan baik administrasi maupun keuangan. Banyak perguruan tinggi swasta maupun negeri yang menerapkan PMB online, tetapi Panitia PMB UIN Malang menerapkan PMB online yang benar-benar realtime. PMB online yang dilakukan perguruan tinggi yang ada saat ini hanya mengandalkan cara pembayaran biaya pendaftaran melalui bank yang menjadi rekanannya, tetapi di UIN Malang berbeda, mulai dari pengisian formulir sampai dengan pembayaran semuanya secara realtime. Setelah calon mahasiswa baru mendaftar dan mengisi formulir melalui situs http://pmb.uin-malang.ac.id, selanjutnya data yang telah diisikan akan langsung terkirim melalui server sinkronisasi pembayaran yang terkoneksi secara langsung dengan server data di Bank BTN Pusat. Sehingga camaba cukup menyebutkan nomor pendaftaran yang tampil di layar browser sewaktu melakukan pengisian formulir kepada petugas Bank BTN atau Kantor Pos seluruh Indonesia. Hal inilah yang membuat satu langkah lebih maju dari perguruan tinggi lain di Indonesia. (red)
Read On 0 komentar

Permasalahan Pendidikan Saat Ini

04.32
Semakin tertinggalnya pendidikan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa lain, harusnya membuat kita lebih termotivasi untuk berbenah diri. Banyaknya masalah pendidikan yang muncul ke permukaan merupakan gambaran praktek pendidikan kita. Sebagai siswa dan sekaligus sebagai calon pendidik, kami merasakan ketimpangan-ketimpangan pendidikan, seperti :

1. Kurikulum

Kurikulum kita yang dalam jangka waktu singkat selalu berubah-ubah tanpa ada hasil yang maksimal dan masih tetap saja. Gembar-gembor kurikulum baru, katanya lebih baiklah, lebih tepat sasaran. Yang jelas, menteri pendidikan berusaha eksis dalam mengujicobakan formula pendidikan baru dengan mengubah kurikulum. Perubahan kurikulum yang terus-menerus, pada prateknya kita tidak tau apa maksudnya dan yang beda hanya bukunya.

Pemerintah sendiri seakan tutup mata, bahwa dalam prakteknya Guru di Indonesia yang layak mengajar hanya 60% dan sisanya masih perlu pembenahan. Hal ini terjadi karena pemerintah menginkan hasil yang baik tapi lupa dengan elemen-elemen dasar dalam pendidikan. Contohnya guru, banyak guru honorer yang masih susah payah mencukupi kebutuhannya sendiri. Kegagalan dalam kurikulum kita juga disebabkan oleh kurangnya pelatihan skill, kurangnya sosialisasi dan pembinaan terhadap kurikulum baru. Elemen dasar ini lah yang menentukan keberhasilan pendidikan yang kita tempuh. Menurut slogan jawa, guru itu digugu dan ditiru, tapi fakta yang ada, banyak masyarakat yang memandang rendah terhadap profesi guru, padahal tanpa guru kita tidak akan bisa menjadi seperti sekarang ini.

2. Biaya

Akhir-akhir ini biaya pendidikan semakin mahal, seperti mengalami kenaikan BBM. Banyak masyarakat yang memiliki persepsi pendidikan itu mahal dan lebih parahnya banyak pula pejabat pendidikan yang ngomong, kalau pengen pendidikan yang berkualitas konsekuensinya harus membayar mahal. Pendidikan sekarang ini seperti diperjual-belikan bagi kalangan kapitalis pendidikan dan pemerintah sendiri seolah membiarkan saja dan lepas tangan.

Sekarang ini memang digalakan program wajib belajar 9 tahun dengan bantuan Bos. Tapi bagaimana dengan daerah-daerah yang terpencil nan jauh disana?? Apa mereka sudah mengenyam pendidikan?? Padahal mereka sebagai WNI berhak mendapatkan pendidikan yang layak.

Akhir-akhir ini pemerintah dalam system pendidikan yang baru akan membagi pendidikan menjadi dua jalur besar, yaitu jalur formal standar dan jalur formal mandiri. Pembagian jalur ini berdasarkan perbedaan kemampuan akademik dan finansial siswa. Jalur formal mandiri diperuntukkan bagi siswa yang mapan secara akademik maupun finansial. Sedangkan jalur formal standar diperuntukkan bagi siswa yang secara finansial bisa dikatakan kurang bahkan tidak mampu. Hal ini saya rasa sangat konyol, bukankah kebijakan ini sama saja dengan mengotak-kotakan pendidikan kita, mau dikemanakan pendidikan kita bila kita terus diam dan pasrah menerima keputusan Pemerintah?? Ironis sekali bila kebijakan ini benar-benar terjadi.

3. Tujuan pendidikan

Katanya pendidikan itu mencerdaskan, tapi kenyataannya pendidikan itu menyesatkan. Bagaiamana tidak? Lihat saja kualitas pendidikan kita hanya diukur dari ijazah yang kita dapat. Padahal sekarang ini banyak ijazah yang dijual dengan mudahnya dan banyak pula yang membelinya (baik dari masyarakat ataupun pejabat-pejabat). Bukankah ini memalukan?? Berarti kalau kita punya uang maka kita tidak usah sekolah tapi sama dengan yang sekolah karena memiliki ijasah. Harusnya pendidikan itu menciptakan siswa yang memiliki daya nalar yang tinggi, memiliki analisis tentang apa yang terjadi sehingga bila di terjunkan dalam suatu permasalahan dapat mengambil suatu keputusan.

4. Disahkannya RUU BHP menjadi Undang- Undang

DPR RI telah mensahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Badan Hukum Pendidikan (BHP) menjadi Undang-Undang. Selama tiga tahun itupula, UU yang berisi 14 bab dan 69 pasal banyak mengalami perubahan. Namun, disahkannya UU BHP ini banyak menuai protes dari kalangan mahasiswa yang khawatir akan terjadinya komersialisasi dan liberalisasi terhadap dunia pendidikan.

|Rabu, 17 Desember 2008, suara mahasiswa Universitas Indonesia yang memprotes pengesahan RUU Badan Hukum Pendidikan (BHP) sudah semakin tipis. Namun, teriakan tetap mereka lantangkan di lobi Gedung Nusantara II DPR, Rabu (17/12) sore.

Ketua BEM UI 2008 Edwin Nafsa Naufal mengatakan, mereka sudah mengawal pembahasan RUU ini selama 3 tahun. Bahkan, sebuah konsep tandingan sudah disiapkan. Segala aspirasi dan masukan, sudah disampaikan kepada Pansus RUU BHP.

Hal yang dikhawatirkan, undang-undang baru ini akan membuat biaya pendidikan semakin mahal dan tidak terakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Anggapan mahasiswa ini, dikatakan Ketua Pansus RUU BHP Irwan Prayitno, salah besar. Pendanaan. 20 persen operasional dibiayai pemerintah. Untuk investasi dan bangunan seluruhnya dibiayai pemerintah.

UU BHP juga menetapkan perguruan tinggi negeri atau PTS wajib memberikan beasiswa sebesar 20 persen dari seluruh jumlah mahasiswa di lembaganya. Namun, jika ternyata Perguruan Tinggi yang terkait tidak mempunyai dana yang mencukupi, untuk memberikan beasiswa, akhirnya dana tersebut akan dibebankan kepada mahasiswa lagi. UU BHP ini akan menjadi kerangka besar penataan organisasi pendidikan dalam jangka panjang. UU BHP sendiri saat ini sedang dalam proses mencari input. Jadi, untuk memperkuat status hukum PT BHMN, ia akan diatur dalam UU BHP.

5. Kontoversi diselenggaraknnya UN

Perdebatan mengenai Ujian Nasional (UN) sebenarnya sudah terjadi saat kebijakan tersebut mulai digulirkan pada tahun ajaran 2002/2003. UN atau pada awalnya bernama Ujian Akhir Nasional (UAN) menjadi pengganti kebijakan Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas). Dari hasil kajian Koalisi Pendidikan (Koran Tempo, 4 Februari 2005), setidaknya ada empat penyimpangan dengan digulirkannya UN. Pertama, aspek pedagogis. Dalam ilmu kependidikan, kemampuan peserta didik mencakup tiga aspek, yakni pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), dan sikap (afektif). Tapi yang dinilai dalam UN hanya satu aspek kemampuan, yaitu kognitif, sedangkan kedua aspek lain tidak diujikan sebagai penentu kelulusan. Kedua, aspek yuridis. Beberapa pasal dalam UU Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 telah dilanggar, misalnya pasal 35 ayat 1 yang menyatakan bahwa standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan, yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. UN hanya mengukur kemampuan pengetahuan dan penentuan standar pendidikan yang ditentukan secara sepihak oleh pemerintah. Pasal 58 ayat 1 menyatakan, evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. Kenyataannya, selain merampas hak guru melakukan penilaian, UN mengabaikan unsur penilaian yang berupa proses. Selain itu, pada pasal 59 ayat 1 dinyatakan, pemerintah dan pemerintah daerah melakukan evaluasi terhadap pengelola, satuan jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Tapi dalam UN pemerintah hanya melakukan evaluasi terhadap hasil belajar siswa yang sebenarnya merupakan tugas pendidik.

Ketiga, aspek sosial dan psikologis. Dalam mekanisme UN yang diselenggarakannya, pemerintah telah mematok standar nilai kelulusan 3,01 pada tahun 2002/2003 menjadi 4,01 pada tahun 2003/2004 dan 4,25 pada tahun 2004/2005. Ini menimbulkan kecemasan psikologis bagi peserta didik dan orang tua siswa. Siswa dipaksa menghafalkan pelajaran-pelajaran yang akan di-UN-kan di sekolah ataupun di rumah.

Keempat, aspek ekonomi. Secara ekonomis, pelaksanaan UN memboroskan biaya. Tahun 2005, dana yang dikeluarkan dari APBN mencapai Rp 260 miliar, belum ditambah dana dari APBD dan masyarakat. Pada 2005 memang disebutkan pendanaan UN berasal dari pemerintah, tapi tidak jelas sumbernya, sehingga sangat memungkinkan masyarakat kembali akan dibebani biaya. Selain itu, belum dibuat sistem yang jelas untuk menangkal penyimpangan finansial dana UN. Sistem pengelolaan selama ini masih sangat tertutup dan tidak jelas pertanggungjawabannya. Kondisi ini memungkinkan terjadinya penyimpangan (korupsi) dana UN.

6. Kesrusakan fasilitas sekolah

Nanang Fatah, pakar pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan, sekitar 60 persen bangunan sekolah di Indonesia rusak berat. Di wilayah Jabar, sekolah yang rusak mencapai 50 persen.

Kerusakan bangunan sekolah tersebut berkaitan dengan usia bangunan yang sudah tua. Untuk mengantisipasi hal tersebut, sejak tahun 2000-2005 telah dilaksankan proyek perbaikan infrastruktur sekolah oleh Bank Dunia, dengan mengucurkan dana Bank Dunia pada Komite Sekolah.

Menurut saya, kerusakan bangunan pendidikan jelas akan mempengaruhi kualitas pendidikan karena secara psikologis seorang anak akan merasa tidak nyaman belajar pada kondisi ruanagan yang hamper roboh.

Bangsaku bangkitlah dengan Pendidikanmu, agar kita menjadi singa yang siap mengaung keseluruh dunia bukan seperti kambing yang selalu malu menunjukan dirinya.

Sumber:

http://www.kompas.com/read/xml/2008/12/17/16114897/mahasiswa.khawatir.uu.bhp.bikin.pendidikan.semakin.mahal.

http://www.geramtolakbhp.blogspot.com/Potret Dunia Pendidikan Indonesia

http://mybluegreen.net/serbaneka/potret-dunia-pendidikan-indonesia/

http://beritasore.com/2007/07/03/uu-bhp-tidak-mengarah-privatisasi-perguruan-tinggi/
Read On 0 komentar

Manajemen Organisasi

04.27
Istilah manajemen berasal dari kata management (bahasa Inggris), turunan dari kata “ to manage” yang artinya mengurus atau tata laksana.Banyak ahli yang memberikan definisi tentang manajemen, diantaranya:
Harold Koontz & O’ Donnel dalam bukunya yang berjudul “Principles of Management” mengemukakan, “Manajemen adalah berhubungan dengan pencapaian sesuatu tujuan yang dilakukan melalui dan dengan orang-orang lain”.
The Liang Gie, Manajemen adalah segenap proses kegiatan untuk menggerakkan sekelompok orang dan mengerahkan segenap fasilitas dalam suatu usaha kerjasama untuk mencapai tujuan tertentu.
T. Hani Handoko, Manajemen dapat didefinisikan sebagai bekerja dengan orang-orang untuk menentukan, menginterpretasikan, dan mencapai tujuan-tujuan organisasi dengan pelaksanaan fungsi-fungsi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penyusunan personalia atau kepegawaian (staffing), pengarahan dan kepemimpinan (leading), dan pengawasan (controlling).
Di atas telah dijelaskan bahwa bahwa manajemen adalah proses pengkoordinasian aktifitas kerja beberapa anggota oleh manajer (ketua), sehingga pekerjaan/kegiatan bisa terselesaikan secara efektif dan efisien.
Manajemen tidak terlepas dari yang dijalankan yaitu Organisasi, Organisasi secara bahasa berasal dari kata organon dalam bahasa Yunani yang berarti alat. Pengertian organisasi telah banyak disampaikan para ahli, tetapi pada dasarnya tidak ada perbedaan yang prinsip, dan sebagai bahan perbandingan akan disampaikan beberapa pendapat sebagai berikut :
Chester I. Barnard dalam bukunya “The Executive Functions” mengemukakan bahwa : “ Organisasi adalah system kerjasama antara dua orang atau lebih” (define organization as a system of cooperatives of two more persons)
James D. Mooney mengatakan bahwa : Organisasi adalah setiap bentuk kerjasama untuk mencapai tujuan bersama (Organization is the form of every human association for the attainment of common purpose)
Dari beberapa pendapat para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa organisasi adalah sebuah komunitas yang bekerjasama dengan suatu perencanaan dan peraturan untuk mencapai tujuan bersama.
Pengertian manajemen dan organisasi diatas diintegrasikan menjadi sebuah pelaksanaan, yaitu manajemen organisasi yang dapat diartikan sebagai proses pengendalian sebuah komunitas yang berlandaskan dengan suatu perencanaan dan peraturan untuk mencapai tujuan bersama secara efektif dan efisien.

PRINSIP-PRINSIP MANAJEMEN ORGANISASI
Prinsip manajemen organisasi adalah dasar-dasar atau pedoman kerja yang bersifat pokok yang tidak boleh diabaikan oleh setiap manajer/ketua. Dalam prakteknya harus diusahakan agar prinsip-prinsip manajemen ini hendaknya tidak kaku yaitu sesuai dengan kebutuhan sebagaimana berikut:
Pembagian kerja yang berimbang
Pemberian kewenangan dan rasa tanggung jawab yang tegas dan jelas
Disiplin
Kesatuan perintah
Kesatuan arah
Mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi
Pemusatan wewenang (sentralisasi)
Jenjang jabatan (hirarki)
Keadilan
Prakarsa
Solidaritas atau rasa setia kawan

FUNGSI MANAJEMEN ORGANISASI
Organisasi sebetulnya adalah suatu makhluk hidup. Mengapa? Karena organisasi adalah kumpulan manusia (manusia yang bersatu untuk mencapai tujuan). Oleh karena itu kita tidak bisa memandang organisasi sebagai benda mati yang bisa diperlakukan seenaknya. Diperlukan suatu perawatan khusus agar organisasi tetap hidup dan berkembang. Berangkat dari pemikiran itu, fungsi manajemen organisasi sesungguhnya adalah pengelolaan orang-orang didalamnya. SDM merupakan faktor paling penting dalam keberlangsungan hidup organisasi. Manusia adalah pendiri, perancang, pekerja, pengamat, pengkritik dan pemutus kebijakan suatu organisasi. Tanpa mereka tidak ada organisasi. Oleh karena itu konsep manajemen organisasi ideal haruslah berpusat pada manusia. Setidaknya ada empat hal yang merupakan prinsip pokok dalam manajemen, yakni planning, organizing, actuating, dan controlling. Untuk lebih jelasnya, berikut ini Anda akan mempelajari uraian singkat tentang fungsi manajemen yang paling banyak digunakan.
Perencanaan (Planning) ialah fungsi manajemen yang harus bisa menjawab beberapa rumus. What(apa) yang akan dilakukan, why (mengapa) harus melakukan apa, when (kapan) melakukan apa, where (dimana) melakukan apa, who (siapa) yang melakukan apa, how (bagaimana) cara melakukan apa.
Pengorganisasian (Organizing) ialah fungsi manajemen yang berhubungan dengan pembagian tugas. Siapa mengerjakan apa dan siapa bertanggung jawab pada siapa.
Penggerakkan (Actuating) yaitu fungsi manajemen yang berhubungan dengan bagaimana cara menggerakkan kerabat kerja (bawahan) agar bekerja dengan penuh kesadaran tanpa paksaan atau tidak mengharapkan imbalan.
Pengawasan ( Controlling) disebut juga fungsi pengendalian. Suatu proses untuk mengukur atau membandingkan antara perencanaan yang telah dibuat dengan pelaksanaan. Dengan adanya pengawasan ini, diharapkan jangan sampai terjadi kesalahan atau penyimpangan.
Read On 0 komentar

Kepemimpinan Dalam Organisasi Pendidikan

04.24
Untuk mendalami kepemimpinan, disini akan dikemukakan beberapa teori kepemimpinan yang telah dikenal sejak lama dan yang agak baru. Kepemimpinan berasal dari kata dasar "pimpin" yang berarti bimbing atau tuntun. Dari kata "pimpin" lahirlah kata kerja memimpin yang artinya membimbing atau menuntun dan benda "pemimpin" yaitu orang yang berfungsi memimpin atau membimbing atau menuntun. Untuk mengetahui teori-teori kepemimpinan, dapat dilihat dari beberapa literatur yang pada umumnya membahas hal-hal yang sama. Dari literatur itu diketahui ada teori yang menyatakan bahwa pemimpin itu dilahirkan, bukan dibuat. Ada juga yang menyatakan bahwa pemimpin itu terjadi karena adanya kelompok/organisasi dan ia melakukan pertukaran dengan yang dipimpin. Teori lain mengemukakan bahwa pemimpin timbul karena situasinya memungkinkan ia ada.
Dalam kenyataannya apapun bentuk suatu organisasi, pasti memerlukan seseorang denga atau tanpa dibantu oleh orang lain, untuk menempati posisi sebagai pimpinan/pemimpin (leader). Seseorang menduduki posisi pemimpin di dalam suatu organisasi mengemban tugas melaksanakan kepemimpinan. Dengan kata lain, pemimpin adalah orangnya dan kepemimpinan (leadership) adalah kegiatannya. Sementara dari segi organisasi, kepemimpinan dapat diartikan sebagai kemampuan mendorong sejumlah orang (dua orang atau lebih) agar bekerjasama dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan yang terarah pada tujuan bersama. Menurut Veitzal Riva’i, “kepemimpinan adalah suatu proses untuk mengerakkan sekelompok orang menuju ke suatu tujuan yang telah ditetapkan bersama”. semua definisi kepemimpinan yang ada mempunyai beberapa unsure yang sama. Menurut Sarros dan Butchatsky leadership is defined as the purposeful behaviour of influencing others to contribute to a commonly agreed goal for the benefit of individual as well as the organization or common good". Menurut definisi tersebut, kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi. Sedangkan menurut Kartini Kartono pengertian pemimpin sebagai berikut : “Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan di satu bidang, sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, demi pencapaian satu atau beberapa tujuan”
Dengan demikian dalam kepemimpinan terdapat faktor-faktor pemimpin, yang dipimpin, tujuan, aktivitas, komunikasi/interaksi, situasi dan kekuasaan yang dapat ditumbuhkembangkan. Efektivitas kepemimpinan itu tidak semata-mata tertuju kepada bawahan, namun juga secara vertikal dan horizontal.

A.Fungsi Kepemimpinan
Aspek pertama pendekatan perilaku kepemimpinan menekankan pada fungsi-fungsi yang dilakukan pemimpin dalam kelompoknya. Fungsi kepemimpinan itu memiliki dua dimensi sebagai berikut:
Dimensi berkenaan dengan tingkat kemampuan mengarahkan (direction) dalam tindakan atau aktivitas pemimpin, yang terlihat pada tanggapan orang-orang yang dipimpinnya.
Dimensi yang berkenaan dengan tingkat dukungan (support) atau keterlibatan orang-orang yang dipimpin dalam melaksanakan tugas-tugas pokok kelompok/organisasi, yang dijabarkan dan dimanifestasikan melalui keputusan-keputusan dan kebijaksanaan-kebijaksanaan pemimpin.
Berdasarkan kedua dimensi itu, selanjutnya secara operasional dapat dibedakan lima fungsi pokok kepemimpinan. Kelima fungsi kepemimpinan itu adalah:
1.Fungsi Instruktif
2.Fungsi Konsultatif
3.Fungsi Partisipasi
4.Fungsi Delegasi
5.Fungsi Pengendalian
Apabila pemimpin suatu organisasi melaksanakan tugasnya sesuai dengan beberapa fungsi diatas, maka akan timbul pengakuan bawahan atau kelompok yang dipimpin atas kepemimpinannya. Menurut Sondang P.Siagian tingkat penerimaan bawahan terhadap dan pengakuan bagi kepemimpinan seseorang akan semakin tinggi apabila pemimpin tersebut :
1.Memiliki daya pikat karena pengetahuan, keterampilan, sikap dan tindak tanduk.
2.Tergolong sebagai pemimpin yang pada dasarnya demokratik tetapi sekaligus mampu melakukan penyesuaian tertentu tergantung pada situasi yang dihadapinya.
3.Menyadari benar makna dan hakikat kebenarannya dalam organisasi yang tercermin pada kemampuannya menyelenggarakan berbagai fungsi kepemimpinan yang ahrus diselenggarakannya.
4.Dalam hubungan atasan dan bawahan menseimbangkan struktur tugas yang harus dilakukan oleh para bawahannya dengan perhatian yang wajar pada kepentingan dan kebutuhan para bawahan tersebut.
5.Menerima kenyataan bahwa setiap bawahan-seperti juga diri sendiri mempunyai jati diri yang khas dengan kelebihan dan kekurangannya serta kekuatan dan kelemahannya.
6.Mampu menggabungkan bakat, pengetahuan teoritikal dan kesempatan memimpin dengan terus berusaha memiliki sebanyak mungkin ciri-ciri kepemimpinan yang ideal.
7.Dengan tetap menggunakan paradigma yang holistik dan integralistik mampu menentukan skala prioritas organisasi sesuai dengan sifat, bentuk dan jenis tujuan dan berbagai sasaran yang ingin dicapai.
8.Memperhitungkan situasi lingkungan yang berpengaruh, baik secara positif maupun secara negatif, terhadap organisasi.
9.Memanfaatkan perkembangan yang terjadi dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa berinjak dan orientasi manusia sebagai unsur terpenting dalam organisasi.
10.Menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan diri sendiri seperti tercermin dalam satunya ucapan dan perbuatan.
Menurut Gross dalam Idochi Anwar, ada sembilan fungsi kepemimpinan yaitu (1)menentukan tujuan, (2)menjelaskan, (3)memilih cara yang tepat, (4)memberikan tugas, (5)mengkoordinasikan tugas, (6)memotivasi, (7)menciptakan kesetiaan, (8)mewakili kelompok, (9)merangsang para anggota untuk bekerja. Secara umum, fungsi kepemimpinan meliputi kegiatan memandu, menuntun, membimbing, membangun memberi motivasi kerja, mengemudikan organisasi, menjalin jaringan-jaringan komunikasi yang baik, memberikan supervisi/ pengawasan yang efisien, dan membawa para pengikutnya kepada sasaran yang ingin dituju, sesuai dengan ketentuan waktu dan perencanaan.

B.Tipe Kepemimpinan
Dalam implementasi fungsi kepemimpinan secara integral, dengan beberapa pemilahan maka akan terlihat tipe kepemimpinan dengan polanya masing-masing. Gaya kepemimpinan memiliki beberapa pola dasar, diantaranya:
1.Tipe Kepemimpinan Otoriter
Kepemimpinan dengan tipe otoriter berlangsung dalam bentuk “working on his group” karena pemimpin menempatkan dirinya diluar anggota/kelompoknya. Pemimpin merasa dirinya mempunyai hak istimewa dan harus diistimewakan oleh bawahannya. Pemimpin merupakan pihak yang memiliki wewenang sedangkan bawahan merupakan pihak yang hanya memiliki tugas, kewajiban dan tanggung jawab.
2.Kepemimpinan Bebas
Tipe kepemimpinan ini merupakan kebalikan dari tipe kepemimpinan otoriter. Dari segi perilaku, kepemimpinan inicenderung didominasi oleh perilaku kepemimpinan kompromi (compromiser) dan perilaku kepemimpinan pembelot (deserter). Dalam prosesnya tidak dilaksanakan kepemimpinan dalam arti sebagai rangkaian kegiatan menggerakkan dan memotivasi anggota kelompok/organisasinya, dengan cara apapun juga sehingga pemimpin hanya sebagai simbol. Kepemimpinannya dijalankan dengan memberikan kebebasan penuh pada orang yang dipimpin dalam mengambil keputusan dan melakkukan kegiatan menurut kehendak dan kepentingan masing-masing, baik secara perseorangan maupun berupa kelompok-kelompok kecil.
3.Kepemimpinan Demokratis
Tipe kepemimpinan menempatkan manusia sebagai faktor utama dan terpenting dalam setiap kelompok/organisasi. Tipe ini diwujudkan dengan dominasi perilaku sebagai pelindung dan penyelamat, perilaku kepemimpinan cenderung memajukan dan mengembangkan kepentingan bersama/organisasi. Kepemimpinan tipe ini dalam mengambil keputusan-keputusan sangat mementingkan musyawarah, yang diwujudkan disetiap jenjang atau unit masing-masing.

C.Determinan Kepemimpinan
Dalam hal ini, determinan diartikan sebagai hal-hal yang mempengaruhi kepemimpinan. Terdapat tiga determinan yang membuat kepemimpinan menjadi operasional, yaitu:
1.Faktor Kemampuan Individu
Dalam kepemimpinan, faktor pribadi yang berupa berbagai kompetensi seorang pemimpin sangat mempengaruhi proses kepemimpinannya. Dalam hal ini, konsepsi kepemimpinan umumnya memusatkan perhatian kepada pribadi pemimpin dengan berbagai kualitas/ kemampuan yang dimilikinya.
Beberapa abad yang lalu, seorang dikatakan memiliki kualitas pribadi ketika ia dilahirkan dalam kalangan raja atau bangsawan. Maka muncullah teori “orang besar” yang pada saat sekarang ini sudah tidak relevan lagi.
Seorang pemimpin di era modern didasarkan pada beberapa kelebihan yang tidak dimiliki orang lain dalam kelompoknya, seperti kecerdasan, tingkat pendidikan, bertanggung jawab, aktivitas dan partisipasi sosial serta status ekonomi dan sosial. Hal tersebut nampak jelas pada lembaga/organisasi formal yang telah menerapkan standar atau aturan yang baku tentang syarat-syarat menjadi seorang pemimpin.
2.Faktor Jabatan
Satu hal yang perlu dipahami banwa seorang pemimpin tidak pernah bekerja dalam ruang vakum, tetapi dia selalu ada dalam lingkungan sosial yang dinamis. Dalam hal ini, seorang pemimpin harus memiliki citra tentang perilaku kepemimpinan yang digunakan sehingga sesuai dengan situasi yang menyertainya. Oleh karena itu, dia harus memahami konsep peranan (role consept). Selain itu, seorang pemimpin harus tanggap terhadap situasi eksternal. Dalam hal ini berupa tuntutan perilaku yang berasal dari orang lain. Peristiwa ini disebut dengan “harapan peranan” (role ekspektation).
3.Faktor Situasi dan Kondisi
Situasi khusus selalu membutuhkan tipe kepemimpinan yang khusus pula. Seorang pemimpin dalam hal ini harus memiliki fleksibilitas yang tinggi terhadap situasi dan kondisi yang menyertai para bawahannya. Bila tidak, maka yang akan muncul bukan komitmen (kepatuhan) tetapi resistensi (perlawanan) dari para bawahan yang pada akhirnya berakibat pada tidak efektifnya suatu kepemimpinan.
Pemahaman terhadap situasi dan kondisi ini sangat penting bagi seorang pemimpin sehingga gaya kepemimpinannya tidak selalu monoton. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus memahami dengan baik tipe Kepemimpinan Situasional.

D.Hakikat Pekerjaan Pemimpin dalam Organisasi Pendidikan
Kepemimpinan pada hakikatnya adalah upaya menggerakkan dan mengarahkan orang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu. Gerakan itu harus efektif dan berlangsung lama dan memperoleh hasil maksimal. Oleh karena itu memerlukan suasana: (1) kecintaan, (2) ikhlas, (3) kesadaran, (4) kegiatan profesional, (5) petunjuk dari Tuhan Yang Maha Kuasa dan (6) kesadaran sejarah.
Sesuai dengan pendapat bahwa kepemimpinan itu menyangkut perubahan, banyak pakar condong memaknai arti “pemimpin” sebagai pembawa perubahan (agent of change), yaitu seseorang yang memupuk perubahan. Dengan demikian pemimpin bukanlah mereka yang selalu memegang kepemimpinan formal. Sebaliknya, semua orang secara potensial adalah pemimpin. Selanjutnya, karena konsep kepemimpinan dan pemimpin menggambarkan adanya orang-orang lain yang terlibat, sebenarnya kepemimpinan adalah suatu proses kolektif atau proses kelompok.
Secara singkat konsep kepemimpinan terdiri atas empat asumsi dasar dalam pelaksanaannya:
1.Kepemimpinan berkaitan dengan pemupukan perubahan
2.Kepemimpinan pada intinya berbasiskan nilai-nilai
3.Semua orang secara potensial adalah pemimpin
4.Kepemimpinan adalah suatu proses kolektif atau kelompok.
Beberapa hal yang dicapai sebagai nilai akhir dalam kepemimpinan haruslah untuk meningkatkan persamaan, keadilan sosial dan kualitas kehidupan untuk memperluas akses dan kesempatan, untuk menguatkan respek perbedaaan dan keanekaragaman.

E.Kepemimpinan Dalam Organisasi Pendidikan (Kepala Sekolah)
Antara kepemimpinan dan manajerial tidak dapat dipisahkan. kepemimpinan akan tercermin dan menjiwai manajer dalam melaksanakan tugasnya. Begitu pula seorang manajer akan lebih efektif dalam melaksanakan tugasnya bila ditunjang dengan jiwa kepemimpinan yang positif. Pemimpin dalam memanaje atau mengelola sekolah adalah mengatur agar seluruh potensi sekolah berfungsi secara optimal dalam mendukung tercapainya tujuan sekolah. Jadi kepala sekolah mengatur agar guru dan staf lain bekerja secara optimal, dengan mendayagunakan sarana/prasarana yang dimiliki serta potensi masyarakat demi mendukung ketercapaian tujuan sekolah. alam satuan pendidikan, Kepala Sekolah menduduki dua jabatan penting untuk dapat menjamin kelangsungan proses pendidikan sebagaimana yang telah digariskan oleh peraturan perundang-undangan. Pertama, Kepala Sekolah adalah pengelola pendidikan di sekolah secara keseluruhan. Kedua, Kepala Sekolah adalah pemimpin formal pendidikan di sekolahnya.
Sebagai pengelola pendidikan, Kepala sekolah bertanggung jawab terhadap keberhasilan penyelenggaraan kegiatan pendidikan dengan cara melaksanakan administrasi sekolah dengan seluruh substansinya. Disamping itu Kepala Sekolah bertanggung jawab terhadap kualitas sumber daya manusia yang ada agar mereka mampu menjalankan tugas-tugas pendidikan. oleh karena itu, kepala sekolah sebagai pengelola memiliki tugas mengembangkan kinerja para personil, teutama meningkatkan kompetensi profesional para guru. Kepala Sekolah bertanggung jawab atas tercapainya tujuan pendidikan melalui upaya penggerakkan bawahan kearah pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Dalam hal ini Kepala Sekolah bertugas melaksanakan fungsi-fungsi kepemimpinan, baik fungsi yang berhubungan dengan pencapaian tujuan pendidikan maupun penciptaan iklim sekolah yang kondusif bagi terlaksananya proses belajar mengajar secara efektif dan efisien.

F.Perilaku Spesifik Pemimpin Dalam Mengelola Pekerjaan
Seorang pemimpin pada hakikatnya adalah penggerak orang-orang yang bekerja. Oleh karena itu, ia harus memiliki perilaku yang efektif dalam menggerakkan bawahannya. Beberapa perilaku kepemimpinan dalam mengelola pekerjaan antara lain membuat perencanaan, menjelaskan, memberikan informasi, memantau dan memecahkan masalah.
1.Membuat Perencanaan
Perencanaan merupakan perilaku pertama yang harus dilakukan dalam mengelola pekerjaan berdasarkan beberapa prinsip yaitu pekerjaan apa yang akan dilakukan, mengapa harus dilakukan, bagaimana melakukannya, siapa yang akan melakukan dan bila mana dilakukan, dan di mana harus dilakukan. Kategori perilaku ini termasuk membuat keputusan mengenai sasaran, strategi, struktur formal, alokasi sumber daya dan pengaturan berbagai kegiatan organisasi. Tujuannya agar pengorganisasian unit kerja sejak awal dapat dijalankan dengan efektif.
2.Menjelaskan
Menjelaskan (clarifying) adalah kegiatan mengkomunikasikan rencana kegiatan yang telah ditentukan atau berbagai kebijakan yang telah dibuat dan petunjuk praktis dalam melaksanakan berbagai kebijakan tersebut.
3.Memberi Informasi
Perilaku menginformasikan adalah suatu kegiatan mengkomunikasikan tugas oleh seorang pemimpin kepada bawahan sehingga mereka dapat menjalankan tugas dengan baik atau memerikan informasi kepada para atasan tentang kegiatan-kegiatan, keputusan-keputusan, serta kinerja subunit dalam instansi tersebut.
4.Memantau
Memantau (monitoring) adalah kegiatan pengumpulan informasi mengenai kegiatan atau aktivitas di subbagian (pemantauan internal) serta informasi tentang peristiwa-peristiwa yang relevan dalam organisasi yang lebih besar yang berasal dari lingkungan luar unit organisasi (pemantauan eksternal).
5.Memecahkan Masalah
Pemecahan masalah menyangkut identifikasi masalah-masalah yang berhubungan dengan pekerjaan, menganalisisnya dengan cara yang sistematis, dan bertindak tepat waktu untuk mengimplementasikan berbagai solusi dalam situasi krisis. Tujuan dari perilaku ini adalah untuk stabilitas organisasi dalam menjamin iklim kerja yang kondusif dan hubungan kerja yang baik.
Salah satu kekurangan yang paling menonjol dalam perilaku mengelola pekerjaan adalah lemahnya sistem monitoring terhadap perilaku pegawai yang berakibat pada tidak terjaminannya mutu kerja. Kelemahan ini harus diantisipasi oleh lembaga pendidikan untuk menghasilkan produktivitas kerja yang optimal.
G.Hal-hal yang sulit dicapai dalam Pengembangan Organisasi
Tidaklah mesti keberhasilan suatu kegiatan selalu meneknkan pada kondisi atau persyaratan-persyaratan yang diperlukan dan ketepatan pengelolaan program-programnya. Selain itu, perlulah juga diprhatikan apa saja yang sulit atau tidak mudah dicapai secara sempurna dalam pelaksanaan program kegiatan tersebut, termasuk dalam hal ini Pengembangan Organisasi. Memang banyak orang yang mengatakan bahwa Pengembangan Organisasi merupakan salah satu strategi yang paling tepat dan paling efektif dan bahkan ada kecenderungan yang memandangnya sebagai strategi yang dapat memecahkan semua persoalan organisasi dan manajemn, baik yang disebabkan oeh perseorangan, kelompok ataupun organisasional. Tapi patut disadari bahwa sebaik apapun sebuah program atau strategi pasti memilki kelemahan-kelemahan pada titik-titik tertentu. Dan kelemahan-kelemahan tersebut yang terdapat dalam Pengembangan Organisasi, menurut Adam I. Indrawijaya, adalah sebagai berikut:
Pertama, Pengembangan Organisasi tidak dapat dan tidak mungkin dapat mengembangkan kerjasama yang betul-betul harmonis dan sportif. Konflik dalam sebuah oganisasi meupakan suatu kenyataan yang tidak mungkin dapat dihindari dan memang diperlukan dalam mengembangkan oransasi.
Kedua, Pengembangan Organisasi tidak dapat dan tidak mungkin dapat menciptakan suatu organisasi yang betul-betul dan selalu berdaya guna dan berhasil guna secara maksimal.
Ketiga, Pengembangan Oganisasi tidak dapat dan tidak mungkin dapat mengubah atau memperbaiki suatu organisasi yang kurang efektif da efisien hanya dalam waktu yang singkat.
Keempat, Pengembangan Organisasi bukanlah suatu strategi da teknologi yan bebas nilai, karena selain dipengaruhi sistem nilai mereka yang mempergunakannya, juga yang lebih penting adalah sasarannya sendiri yaitu untuk mengembangkan sistem nilai organisasional yang lebih positif.

H.Kesimpulan
Peran utama seorang pemimpin adalah mempengaruhi atau menggerakkan orang lain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan antusias. Seorang pimpinan sebuah organisasi harus memiliki kemampuan dalam memanaj organisasi yang dipimpinnya, hal ini akan dapat membantu dalam perkembangan organisasi tersebut. Dengan adanya perkembanagn organisasi maka akan diikuti dengan perubahan dalam beberapa hal di tubuh organisasi. Organisasi mengalami berbagai tantangan baik yang berasal dari dalam diri organisasi maupun yang berasal dari lingkungan. Penyebab perubahan yang berasal dari dalam diri organisasi misalnya, bertambahnya volume kegiatan, adanya peralatan baru, perubahan tujuan, penambahan tujuan, perluasan wilayah kegiatan, tingkat pengetahuan, tingkat keterampilan serta perilaku para pegawai. Sedangkan penyebab perubahan yang berasal dari lingkungan misalnya adanya peraturan baru, perubahan kebijakan dari organisasi tingkat yang lebih tinggi serta perubahan gaya hidup masyarakat.
Setiap organisasi pastilah membutuhkan pemimpin, sedangkan kepemimpinan pada dasarnya tidak selamanya harus dilaksanakan dalam sebuah organisasi. Dengan demikian berarti bahwa organisasi hanya akan mampu mewujudkankan tujuannya, jika setiap orang menduduki jabatan pimpinan dalam organisasi tersebut berusaha melaksanakan tugas dan menjalankankan kepemimpinannya secara efektif sesuai dengan posisinya masing-masing. Tugas seorang pemimpin bukan hanya bekerja sesuai dengan aturan dan ketentuan yang dijadwalkan, lebih dari itu, ia mempunyai kewajiban untuk mempertahankan organisasi agar tetap eksis serta berjalan dan berkembang sesuai dengan kondisi lingkungan/jaman.
Read On 0 komentar

Strategi Pembelajaran LSQ (Learning Start With a Question) dan IS (Information Search) Di Sekolah

04.16
Oleh: Hendi Burahman

A.Pendahuluan
Pendidikan merupakan proses yang sangat menentukan untuk perkembangan individu dan perkembangan masyarakat. Kemajuan suatu masyarakat dapat dilihat dari perkembangan pendidikanya. Secara jelas tujuan Pendidikan Nasional yang dirumuskan dalam Undang-Undang No.20 tahun 2003 khususnya pasal 3, bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan pendidikan sebagaimana termuat dalam Undang-Undang tersebut, harus dipahami dan disadari oleh setiap pengembang kurikulum. Sebab, apapun yang direncanakan dan dikembangkan serta dilaksanakan dalam setiap proses pendidikan pada akhirnya harus bermuara pada pengembangan potensi setiap anak agar mereka menjadi manusia yang beriman dan bertakwa, memiliki akhlak yang mulia, manusia yang sehat, berilmu, cakap dan lain sebagainya.
Penggunaan suatu strategi pembelajaran akan membantu kelancaran, efektivitas, dan efisiensi pencapaian tujuan. Guru dituntut harus dapat menetapkan strategi pembelajaran apa yang paling tepat dan sesuai untuk tujuan tertentu, penyampaian bahan tertentu, suatu kondisi belajar peserta didik, dan untuk suatu penggunaan strategi atau metode yang memang telah dipilih. Tujuan utama seorang guru dalam mewujudkan tujuan pendidikan di sekolah adalah mengembangkan strategi belajar-mengajar yang efektif. Pengembangan strategi ini dimaksudkan sebagai upaya untuk menciptakan keadaan belajar yang lebih menyenangkan dan dapat mempengaruhi peserta didik, sehingga mereka dapat belajar dengan menyenangkan dan dapat meraih prestasi belajar secara memuaskan. Oleh karena itu, melaksanakan kegiatan belajar mengajar merupakan pekerjaan kompleks dan menuntut kesungguhan guru.
Strategi pembelajaran yang baru berkembang adalah metode Learning Start With A Question (LSQ) dan Information Search (IS) yang dapat meningkatkan Hasil Belajar siswa. Untuk meningkatkan motivasi dan keaktifan siswa dalam bertanya diperlukan suatu strategi yang tepat. Strategi yang dapat menumbuhkan motivasi dan keaktifan siswa dalam pembelajaran adalah strategi LSQ yaitu suatu strategi pembelajaran aktif dalam bertanya. Agar siswa dapat memiliki daya berinkuiri dan saling bekerjasama diperlukan suatu strategi dan metode yang disebut dengan strategi IS, yaitu suatu strategi pembelajaran mencari informasi melalui diskusi kelompok. Namun ironisnya, strategi pembelajaran ini tidak semuanya digunakan oleh setiap guru mata pelajaran di sekolah-sekolah. Padahal jika dilihat dari peran dan fungsi strategi pembelajaran LSQ (Learning Start With A Question) dan IS (Information Search), sangat urgen dalam meningkatkan hasil belajar siswa.

B.Rumusan Masalah
1.Bagaimana memilih strategi pembelajaran?
2.Apa dampak dari pelaksanaan strategi pembelajaran LSQ (Learning Start With A Question) dan IS (Information Search)?

C.Pengertian Strategi Pembelajaran
Setiap orang mempunyai cara yang berbeda dalam melaksanakan suatu kegiatan. Biasanya cara tersebut telah direncanakan sebelum pelaksanaan kegiatan. Bila belum mencapai hasil yang optimal, dia berusaha mencari cara lain yang dapat mencapai tujuannya. Proses tersebut menunjukkan bahwa orang selalu berusaha mencari cara terbaik untuk mendapatkan hasil yang diharapkan. Setiap orang yang menerapkan cara tertentu dalam suatu kegiatan menunjukkan bahwa orang tersebut telah melakukan strategi. Dan strategi tersebut dipakai sesuai dengan kondisi waktu dan tempat saat dilaksanakannya kegiatan.
Strategi pembelajaran terdiri atas dua kata, yaitu strategi dan pembelajaran. Istilah strategi (strategy) berasal dari kata benda dan kata kerja dalam bahasa Yunani, sebagai kata benda, strategos, merupakan gabungan kata “stratosâ€� (militer) dan “agoâ€� (memimpin), sebagai kata kerja, stratego, berarti merencanakan (to plan)1. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, strategi berarti rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus2. Sedangkan secara umum strategi mengandung pengertian suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan3. Strategi, menurut Poerwadarminta adalah; 1). Ilmu siasat perang, 2). Siasat Perang, 3). Bahasa Pembicaraan akal (tipu muslihat) untuk mencapai suatu maksud. Sedangkan Pembelajaran merupakan terjemahan dari kata “instruction” yang dalam bahasa Yunani disebut instructus atau “intruere” yang berarti menyampaikan pikiran, dengan demikian arti instruksional adalah menyampaikan pikiran atau ide yang telah diolah secara bermakna melalui pembelajaran4.  Pengertian ini lebih mengarah kepada guru sebagai pelaku perubahan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa strategi sebagai suatu cara yang dianggap mampu untuk mencapai suatu tujuan yang telah terprogram secara sistematis.
Sedangkan pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, di mana mengajar dilakukan oleh guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik atau siswa. Konsep pembelajaran menurut Corey adalah suatu proses di mana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respons terhadap situasi tertentu5. Pembelajaran menurut Dimyati dan Mudjiono adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan penyediaan sumber belajar6. Jadi, menurut penulis, pembelajaran secara sederhana dapat diartikan sebagai upaya yang dilakukan oleh pendidik (guru) untuk membantu peserta didik (siswa) aktif dalam kegiatan belajar yang telah dirancang oleh guru.
Strategi yang diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar disebut strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran menurut Slameto ialah suatu rencana tentang pendayagunaan dan sarana yang ada untuk meningkatkan efektifitas dan efisien pengajaran7. Menurut Nana Sudjana, strategi pembelajaran adalah tindakan guru melaksanakan variabel pengajaran (yaitu tujuan, materi, metode, dan alat serta evaluasi) agar dapat memengaruhi siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan8. Dari berbagai pendapat mengenai strategi pembelajaran di atas, dapat di simpulkan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu rencana yang dilaksanakan pendidik (guru) untuk mengoptimalkan potensi peserta didik agar siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran dan mencapai hasil yang diharapkan

D.Pertimbangan Pemilihan Strategi Pembelajaran
Pembelajaran pada dasarnya adalah proses penambahan informasi dan kemampuan baru. Ketika kita berpikir informasi dan kemampuan apa yang harus dimiliki oleh siswa, maka pada saat itu juga kita semestinya berpikir strategi apa yang harus dilakukan agar semua itu dapat tercapai secara efektif dan efisien. Ini sangat penting untuk dipahami, sebab apa yang harus dicapai akan menentukan bagaimana cara mencapainya.
Sebelum menentukan strategi pembelajaran yang dapat digunakan, ada beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan:
a.Pertimbangan yang berhubungan dengan tujuan yang ingin dicapai. Pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan adalah:
1)Apakah tujuan pembelajaran yang ingin dicapai berkenaan dengan aspek
2)Bagaimana kompleksitas tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, apakah tingkat tinggi atau tingkat rendah ?
3)Apakah untuk mencapai tujuan itu memerlukan keterampilan akademis ?
b.Pertimbangan yang berhubungan dengan bahan atau materi pembelajaran:
1)Apakah materi pelajaran itu berupa fakta, konsep, hukum, atau teori tertentu ?
2)Apakah untuk mempelajari materi pembelajaran itu memerlukan prasyarat tertentu atau tidak ?
3)Apakah tersedia buku-buku sumber untuk mempelajari materi itu ?
c.Pertimbangan dari sudut siswa:
1)Apakah strategi pembelajaran sesuai dengan tingkat kematangan siswa ?
2)Apakah strategi pembelajaran itu sesuai dengan minat, bakat, dan kondisi siswa ?
3)Apakah strategi pembelajaran itu sesuai dengan gaya belajar siswa ?
d.Pertimbangan-pertimbangan lainnya:
1)Apakah untuk mencapai tujuan cukup dengan satu strategi saja ?
2)Apakah strategi yang kita tetapkan dianggap satu-satunya strategi yang dapat digunakan ?
3)Apakah strategi itu memiliki nilai efektivitas dan efisiensi ?9.
Dari berbagai pertanyaan di atas, merupakan bahan pertimbangan dalam menetapkan strategi yang ingin diterapkan. Misalkan untuk mencapai tujuan yang berhubungan dengan aspek kognitif, akan memiliki strategi yang berbeda dengan upaya untuk mencapai tujuan yang berhubungan dengan aspek afektif atau aspek psikomotor, dll.

E.Pelaksanaan Strategi Learning Start With A Question (LSQ)
Secara tegas telah  dinyatakan dalam Pasal 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidikan nasional “berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” Sebagai salah satu ilmplikasi dari tuntutan normatif, Udin S. Wiranaputra mengemukakan bahwa kapasitas dan kinerja guru  pada tiap satuan pendidikan perlu dikembangkan agar dapat memberi layanan pendidikan yang bermutu. Kapasitas dan kinerja pembelajaran adalah kemampuan guru dalam satuan pendidikan untuk merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, dan melakukan penyempurnaan program pembelajaran secara utuh dan berkelanjutan sebagai bagian integral dari perwujudan peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah. Bentuk peningkatan kapasitas dan kinerja guru melalui kompetensi metodologi adalah melalui pemahaman dan pelaksanaan  strategi pembelajaran yang mampu membangun pembentukan sikap demokratis dan bertanggung jawab. Strategi pembelajaran adalah penataan cara-cara atau langkah-langkah dibawah kondisi pembelajaran yang berbeda guna mencapai tujuan atau kompetensi hasil pembelajaran10.
Strategi Learning Start With a Question (LSQ) adalah suatu strategi pembelajaran aktif dalam bertanya. Agar siswa aktif dalam bertanya, maka siswa diminta untuk mempelajari materi yang akan dipelajarinya, yaitu dengan membaca terlebih dahulu. Dengan membaca maka siswa memiliki gambaran tentang materi yang akan dipelajari, sehingga apabila dalam membaca atau membahas materi tersebut terjadi kesalahan konsep akan terlihat dan dapat dibahas serta dibenarkan secara bersama-sama. Untuk melihat apakah siswa telah mempelajari materi tersebut, maka guru melakukan pre test. Selain itu, guru memberi tugas kepada siswa untuk membuat rangkuman serta membuat daftar pertanyaan, sehingga dapat terlihat berapa persen siswa yang belajar dan yang tidak belajar. Dengan membaca maka dapat memetik bahan-bahan pokok yang penting. Dalam membaca terdapat beberapa cara seperti :
1)Saat membaca, siswa memberi garis bawah. Hal ini bertujuan agar siswa mengetahui kata yang penting atau kata-kata yang kurang dimengerti.
2)Siswa membuat catatan atau ringkasan hasil bacaan. Hal ini bertujuan agar siswa mengetahui materi yang perlu dihafal atau dikaji ulang.
Dengan bertanya akan membantu siswa belajar dengan kawannya, membantu siswa lebih sempurna dalam menerima informasi, atau dapat mengembangkan keterampilan kognitif tingkat tinggi. Dengan demikian guru tidak hanya akan belajar bagaimana “ bertanya” yang baik dan benar, tetapi juga belajar bagaimana pengaruh bertanya di dalam kelas. Kelancaran bertanya (fluency) adalah merupakan jumlah pertanyaan yang secara logis dan relevan diajukan guru kepada siswa di dalam kelas. Kelancaran bertanya ini sangat diperlukan bagi guru di dalam proses belajar-mengajar. Pertanyaan yang disajikan guru diarahkan dan ditujukan pada pelajaran yang memiliki informasi yang relevan dengan materi pelajaran, untuk membantu siswa dalam mencapai tujuan pelajaran yang telah ditetapkan11. Zaini dkk. mengatakan bahwa langkah-langkah pembelajaran LSQ sebagai berikut :
1)Guru memberi tahu dahulu materi apa yang akan dibahas.
2)Guru meminta siswa untuk mempelajari materi yang akan dipelajari dan meminta siswa untuk menuliskan atau memberi tanda pada bagian bacaan yang tidak dipahaminya dirumah.
3)Guru meminta siswa untuk bertanya materi yang kurang dipahami
4)pada saat membaca.
5)Guru mulai melakukan kegiatan sesuai yang direncanakan di dalam
6)Rancangan pembelajaran12.

F.Strategi Information Search (IS)
Strategi IS (Information Search) adalah suatu strategi pembelajaran mencari informasi. Informasi dapat diperoleh melalui koran, buku paket, majalah, atau internet. Hal tersebut digunakan agar siswa dapat memiliki informasi lebih tentang materi tersebut. Agar siswa aktif mencari informasi, maka guru membuat suatu permasalahan yang dituangkan di dalam LDS (Lembar Diskusi Siswa). Pencarian informasi ini dilakukan secara kelompok, yang bertujuan agar permasalahan tersebut terselesaikan dengan cepat, dan apabila siswa malu bertanya kepada guru siswa dapat bertanya dengan teman sekelompoknya, sehingga terjadi tukar pendapat antar anggota kelompok13. Langkah-langkah strategi IS sebagai berikut : Guru membuat suatu permasalahan yang mana dalam permasalahan tersebut siswa diminta untuk mencari informasi agar permasalahan tersebut dapat dipecahkan. Permasalahan ini dituangkan di dalam LDS, dan LDS ini dikerjakan secara kelompok. Tiap kelompok dapat mencari informasi tersebut melalui bahan-bahan sumber yang bisa diakses siswa, seperti koran, majalah internet, dan buku paket lainya. Setelah siswa menyelesaikan LDS dengan waktu yang telah ditetapkan, kemudian guru meminta siswa untuk mempresentasikan jawaban tersebut di depan kelas. Kelompok lain mendengarkan, melontarkan pertanyaan, dan menyanggahnya, sehingga terjadi diskusi di kelas. Selanjutnya guru menegaskan kembali materi yang telah dibahas, hal ini bertujuan agar siswa tidak mengalami salah persepsi tentang materi tersebut. Dari penjelasan diatas terlihat bahwa strategi LSQ dan IS ini memiliki beberapa kelebihan. Kelebihan dari strategi LSQ dan IS sebagai berikut :
1)Siswa menjadi siap memulai pelajaran, karena siswa belajar terlebih dahulu sehingga memiliki sedikit gambaran dan menjadi lebih paham setelah mendapat tambahan penjelasan dari guru.
2)Siswa aktif bertanya dan mencari informasi.
3)Materi dapat diingat lebih lama.
4)Kecerdasan siswa diasah pada saat siswa mencari informasi tentang materi tersebut tanpa bantuan guru.
5)Mendorong tumbuhnya keberanian mengutarakan pendapat secara terbuka dan memperluas wawasan melalui bertukar pendapat secara kelompok.
6)Siswa belajar memecahkan masalah sendiri secara berkelompok dan saling bekerjasama antara siswa yang pandai dengan siswa yang kurang pandai. Melalui langkah-langkah dalam strategi LSQ dan IS akan membuat beberapa tahapan pembelajaran yang menggunakan strategi LSQ dan IS yang dibantu dengan diskusi kelompok.

G.Analisis SWOT dalam strategi pembelajaran LSQ dan IS
Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi, berdasarkan logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (Sthrengths) dan peluang (Opportunities), dan secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weaknesses) dan ancaman (Threats). Jadi, analisis SWOT membandingkan antara faktor eksternal Peluang dan Ancaman dengan faktor internal Kekatan dan Kelemahan14.
Strategi pembelajaran LSQ dan IS dianalisis menggunakan analisis swot menghasilkan berbagai solusi dan permasalahan, namun dengan berbagai bahasan strategi ini dapat dikatakan layak digunakan dalam proses pembelajaran.
Kekuatan
Penyampaian pesan pembelajaran dapat lebih terstandar
Pembelajaran dapat lebih menarik
Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan menerapkan teori belajar
Waktu pelaksanaan pembelajaran dapat diperpendek
Kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan
Proses pembelajaran dapat berlangsung kapanpun dan dimanapun diperlukan
Sikap positif siswa terhadap materi pembelajaran serta proses pembelajaran dapat ditingkatkan
Peran guru berubahan kearah yang positif
Peluang
Menarik perhatian siswa
Membantu untuk mempercepat pemahaman dalam proses pembelajaran
Mengatasi keterbatasan ruang
Pembelajaran lebih komunikatif dan produktif
Waktu pembelajaran bisa dikondisikan
Menghilangkan kebosanan siswa dalam belajar
Meningkatkan motivasi siswa dalam mempelajari sesuatu atau menimbulkan gairah belajar.
Melayani gaya belajar siswa yang beraneka ragam
Meningkatkan kadar keaktifan atau keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran.
Tantangan
peserta didik dituntut respon dengan proses pembelajaran
peserta didik akan terpancing untuk berfikir
peserta didik harus melkukan komunikasi agar mendapatkan respon dari peserta didik yang lain.
Menyediakan fasilitas yang sesuai dengan pokok kajian
pendidik harus melakukan pengkondisian kelas, karena proses LSQ harus terjadi komunikasi 1 lawan 1 dan 1 lawan audiens
sebelum proses berlangsung, pendidik harus mengarahkan peserta didik untuk menyiapkan bahan yang dibahas
peserta didik dituntut berani dan tidak malu
pendidik harus menjadi netral dalam pelaksanaan proses tersebut.
Kelemahan
peserta didik yang jarang memperhatikan atau bosan jika bahasan dalam strategi tersebut tidak disukai
pelaksanaan strategi harus dilakukan oleh pendidik yang kreatif dan vokal, sedangkan tidak semua pendidik di Indonesia memiliki karakter tersebut.
Tidak semua lembaga bisa melaksanakannya, karena fasillitas harus tersedia
menjadi hambatan dengan berbagai pola pikir dan karakter peserta didik yang berbeda-beda

H.Kesimpulan
Sebelum melaksanakan berbagai macam strategi yang bervariatif, hendaknya pendidik memilih strategi yang sesuai dengan kondisi peserta didik agar tujuan pembelajaran aktif, kreatif dan menyenangkan dapat dicapai. Keberhasilan implementasi strategi pembelajaran sangat tergantung pada cara guru menggunakan metode pembelajaran, karena suatu strategi pembelajaran hanya mungkin dapat diimplementasikan melalui penggunaan metode pembelajaran
Melaksanakan berbagai macam strategi pembelajaran adalah upaya guru dalam mengembangkan kualitas peserta didik. Dengan melaksanakan strategi pembelajaran LSQ (Learning Start With a Question) dan IS (Information Search) Untuk meningkatkan motivasi dan keaktifan siswa dalam bertanya dan menumbuhkan motivasi dan keaktifan siswa serta dapat memiliki daya berinkuiri dan saling bekerjasama.
DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2001), edisi ke-3, cet. 1,

Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 1999)

Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Algensindo, 2002)

Rasyad, Aminuddin , Teori Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Uhamka Press, 2003)

Sudjana S, Strategi Pembelajaran, cet. 3, (Bandung: Falah Production, 2000)

Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), cet. 2,

Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran: Untuk membantu memecahkan  problematika belajar dan mengajar, (Bandung: Alfabeta, 2003)

Slameto, Proses Belajar Mengajar dalam Sistem Kredit Semester (SKS), (Jakarta: Bumi Aksara, 1991)

Sunaryo. Strategi Belajar Mengajar Dalam Pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. (Jakarta:: Depdikbud 1989)

Udin, S. Winataputra,. Pedoman  Umum Sekolah Sebagai  Wahana Pengembangan Warga Negara Yang Demokratis dan  Bertanggung Jawab melalip Pendidikan Kewarganegaraan (Jakarta: Dirjen. Mandikasmen 2007)

Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, ed. 1, cet. 5, (Jakarta: Kencana, 2008)

Zaini, Hisyam; Bermawy Munthe; Sekar Ayu Aryani, Strategi Pembelajaran Aktif (Yogyakarta : Pustaka Insan Madani 2008)
Read On 0 komentar

MANAJEMEN HUMAS DI SEKOLAH

04.12
PENDAHULUAN
Sekolah adalah didalam, oleh dan untuk masyarakat. Program sekolah hanya dapat berjalan lancar apabila mendapat dukungan masyarakat. Oleh karena itu Pimpinan sekolah perlu terus menerus membina hubungan yang baik antara sekolah dan masyarakat. Sekolah perlu banyak memberi informasi kepada masyarakat tentang program-prgoram dan problem-problem yang dihadapi, agar masyarkat mengetahui dan memahami masalah-masalah yang dihadapi sekolah. Dari pemahaman dan pengertian ini dapat dihadapkan adanya umpan balik yang sangat berguna bagi pengembangan program sekolah lebih lanjut dan diharapkan pula tumbuhnya rasa simpati masyarakat terhadap program-program sekolah, yang dapat mengundang partisipasi yang aktif masyarkat.

Kebijakan Direktur Pendidikan Menengah Umum tentang Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah menekankan agar sekolah mampu mengkoordinasikan dan menyerasikan segala sumber daya yang ada disekolah dan di luar sekolah untuk mewujudkan sekolah yang bermutu. Untuk mewujudkan itu semua diperlukan kesiapan dan kemampuan agar bisa memberdayakan semua komponen di sekolah dan di luar sekolah agar berpartisipasi secara aktif dalam penyelenggaraan pendidikan.


PEMBAHASAN

1. Pengertian Manajemen Humas

Berbicara tentang humas pasti ingatan kita akan tertuju pada hal yang berhubungan dengan komunikasi, konfrensi pers, informasi, public relation. Pokoknya secara gampang diibaratkan sebagai penyampaian segala informasi. Menurut kamus Fund and Wagnel Pengertian Humas adalah segenap kegiatan dan teknik/kiat yang digunakan organisasi atau individu untuk menciptakan atau memelihara suatu sikap dan tanggapan yang baik dari pihak luar terhadap keberadaan dan aktivitasnya. Sedangkan pengertian Humas dalam Pendidikan adalah Rangkaian pengelolaan yang berkaitan dengan kegiatan hubungan lembaga pendidikan dengan masyarakat (orang tua murid) yang dimaksudkan untuk menunjang proses belajar mengajar di lembaga pendidikan bersangkutan (Anggoro, 2001).

Berdasarkan definisi diatas pegertian humas secara umum adalah fungsi yang khas antara organisasi dengan publiknya, atau dengan kata lain antara lembaga pendidikan dengan warga di dalam (guru, karyawan, siswa) dan warga dari luar (wali siswa, masyarakat, institusi luar, patner sekolah) Dalam konteks ini jelas bahwa humas atau public relation (PR) adalah termasuk salah satu elemen yang penting dalam suatu organisasi kelompok ataupun secara individu. Adapun pengertian manajemen humas adalah suatu proses dalam menangani perencanaan, pengorganisasian, mengkomunikasikan serta pengkoordinasian yang secara serius dan rasional dalam upaya pencapaian tujuan bersama dari organisasi atau lembaga yang diwakilinya. Dan untuk merealisasikan itu semua banyak hal yang harus dilakukan oleh humas dalam suatu lembaga pendidikan (Nasution, 2006).


2. Tugas Pokok Humas

Tugas pokok hubungan sekolah dengan masyarakat dalam pendidikan antara lain:

1. Memberikan informasi dan menyampaikan ide atau gagasan kepada masyarakat atau pihak-pihak lain yang membutuhkannya.

2. Membantu pemimpin yang karena tugas-tugasnya tidak dapat langsung memberikan informasi kepada masyarakat atau pihak-pihak yang memerlukannya.

3. Membantu pemimpin mempersiapkan bahan-bahan tentang permasalahan dan informasi yang akan disampaikan atau yang menarik perhatian masyarakat pada saat tertentu.

4. Melaporkan tentang pikiran-pikiran yang berkembang dalam masyarakat tentang masalah pendidikan.

5. Membantu kepala sekolah bagaimana usaha untuk memperoleh bantuan dan kerja sama.

6. Menyusun rencana bagaimana cara-cara memperoleh bantuan untuk kemajuan pelaksanaan pendidikan (Suryosubroto: 2004).


3. Tujuan Hubungan Sekolah dan Masyarakat (orang tua murid)

Mengenai tujuan hubungan sekolah dan masyarakat (orang tua murid), leslie merumuskan tujuan organisasi perkumpulan antara guru dan masyarakat (orang tua murid), adalah sebagai berikut:

a) Untuk mengembangkan pengertian masyarakat (orang tua murid) tentang tujuan dan kegiatan pendidikan di sekolah.

b) Untuk memperlihatkan bahwa rumah dan sekolah bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan pendidikan anak disekolah.

c) Untuk membari fasilitas pertukaran informasi antara orang tua dan guru yang kemudian mempunyai dampak terhadap pemecahan pendidikan anak.

d) Perolehan opini masyarakat tentang sekolah dijadikan perencanaan untuk pertemuan dengan orang tua dalam rangka untuk kebutuhan murid-murid

e) Untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan pribadi anak (Indrafachrudi: 1994).

Sedangkan menurut Mulyasa (2007: 50), tujuan dari hubungan sekolah dengan masyarakat adalah: (1) memajukan kualitas pembelajaran dan pertumbuhan peserta didik; (2) memperkokoh tujuan serta meningkatkan kualitas hidup dan penghidupan masyarakat; dan (3) menggairahkan masyarakat untuk menjalin hubungan dengan sekolah.


4. Jenis Hubungan Sekolah dan Masyarakat

Jenis hubungan sekolah dan masyarakat itu dapat digolongkan menjadi 3 jenis, yaitu:[1]

a) Hubungan edukatif, ialah hubungan kerja sama dalam hal mendidik murid, antara guru di sekolah dan orang tua di dalam keluarga. Adanya hubungan ini dimaksudkan agar tidak terjadi perbedaan prinsip atau bahkan pertentangan yang dapat mengakibatkan keragu-raguan pendirian dan sikap pada diri anak.

b) Hubungan kultural, yaitu usaha kerja sama antara sekolah dan masyarakat yang memungkinkan adanya saling membina dan mengembangkan kebudayaan masyarakat tempat sekolah itu berada. Untuk itu diperlukan hubungan kerja sama antara kehidupan di sekolah dan kehidupan dalam masyarakat. Kegiatan kurikulum sekolah disesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan perkembangan masyarakat. Demikian pula tentang pemilihan bahan pengajaran dan metode-metode pengajarannya.

c) Hubngan institusional, yaitu hubungan kerja sama antara sekolah dengan lembaga-lembaga atau instansi resmi lain, baik swasta maupun pemerintah, seperti hubungan kerja sama antara sekolah satu dengan sekolah-sekolah lainnya, kepala pemerintah setempat, ataupun perusahaan-perusahaan Negara, yang berkaitan dengan perbaikan dan perkembangan pendidikan pada umumnya (Purwanto, 2005: 193).


5. Tehnik-tehnik Hubungan Sekolah dengan Masyarakat (orang tua murid)

Ada sejumlah tehnik yang kiranya dapat diterapkan lembaga pendidikan, tehnik-tehnik tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu tehnik tertulis, tehnik lisan, dan tehnik peragaan, tehnik elektronik.


a) Tehnik Tertulis

Hubungan antara sekolah dan masyarakat dapat dilakukan secara tertulis, cara tertulis yang dapat digunakan meliputi:

1) Buku kecil pada permulaan tahun ajaran

Buku kecil pada permulaan tahun ajaran baru ini isinya dijelaskan tentang tata tertib, syarat-syarat masuk, hari-hari libur, hari-hari efektif. Kemudian buku kecil ini dibagikan kepada orang tua murid, hal ini biasanya dilaksanakan di taman kanak-kanak (TK).

2) Pamflet

Pamflet merupakan selebaran yang biasanya berisi tentang sejarah lembaga pendidikan tersebut, staf pengajar, fasilitas yang tersedia, dan kegiatan belajar. Pamphlet ini selain di bagikan ke wali murid juga bias di sebarkan ke masyarakat umum, selain untuk menumbuhkan pengertian masyarakat juga sekaligus untuk promosi lembaga (Indrafachrud: 1994).

3) Berita kegiatan murid

Berita ini dapat dibuat sederhana mungkin pada selebaran kertas yang berisi informasi singkat tentang kegiatan-kegiatan yang dilakukan di sekolah atu pesantren. Dengan membacanya orang tua murid mengetahui apa yang terjadi di lembaga pendidikan tersebut, khususnya kegiatan yang dilakukan murid.

4) Catatan berita gembira

Tehnik ini sebenarnya mirip dengan berita kegiatan murid, keduanya sama-sama ditulis dan disebarkan ke orang tua. Hanya saja catatan berita gembira ini berisi tentang keberhasilan seoran murid. Berita tersebut ditulis di selebaran kertas dan disampaikan kepada wali murid atau bahkan disebarkan ke masyarakat.

5) Buku kecil tentang cara membimbing anak

Dalam rangka menciptakan hubungan yang harmonis dengan orang tua, kepala sekolah atau guru dapat membuat sebuah buku kecil yang sederhana yang berisi tentang cara membimbing anak yang efektif, kemudian buku tersebut diberikan kepada orang tua murid (Bafadhol, 2005: 63).


b) Tehnik Lisan

Hubungan sekolah dengan masyarakat dapat juga lisan, yaitu:

1) Kunjungan rumah

Dalam rangka mengadakan hubungan dengan masyarakat, pihak sekolah dapat mengadakan kunjungan ke rumah wali murid, warga atupun tokoh masyarakat. Melalui kunjungan rumah ini guru akan mengetahui masalah anak dirumahnya. Apabila setiap anak diketahui problemnya secara totalitas, maka program pendidikan akan lebih mudah direncanakan untuk disesuaikan dengan minatnya. Hal ini akan memperlancar mancapai tujuan program pendidikan sekolah tersebut (Indrafachrud, 1994: 69).

2) Panggilan orang tua

Selain mengadakan kunjungan ke rumah, pihak sekolah sesekali juga memanggil orang tua murid datang ke sekolah. Setelah dating, mereka diberi penjelasan tentang perkembangan pendidikan di lembaga tersebut. Mereka juga perlu diberi penjelasan khusus tentang perkembangan pendidikan anaknya.

3) Pertemuan

Dengan tehnik ini berarti sekolah mengundang masyarakat dalam acara pertemuan khusus untuk membicarakan masalah atau hambatan yang dihadapi sekolah. Pertemuan ini sebaiknya diadakan pada waktu tertentu yang dapat dihadiri oleh semua pihak yang diundang. Sebelum pertemuan dimulai acaranya disusun terlebih dahulu. Oleh karena itu, dalam setiap akan mengadakan pertemuan sebaiknya dibentuk panitia penyelenggara.


c) Tehnik Peragaan

Hubungan sekolah dengan masyarakat dapat dilakukan dengan cara mengundang masyarakat melihat peragaan yang diselenggarakan sekolah. Peragaan yang diselenggarakan bias berupa pameran keberhasilan murid. Misalkan di TK menampilkan anak-anak bernyanyi, membaca puisi, atau biasanya di pesantren ketika mengadakan pengajian ditampilkan santri-santri yang hafal nadhom alfiyah. Pada kesempatan itu kepala sekolah atau guru atau juga pengasuh kalau di pondok pesantren dapat menyampaikan program-program peningkatan mutu pendidikan dan juga masalah atau hambatan yang dihadapi dalam merealisasikan program-program itu (Bafadhol, 2005: 69).


d) Tehnik Elektronik

Seiring dengan perkembangan teknologi elektronik maka dalam mengakrabkan sekolah dengan orang tua murid dan masyarakat pihak sekolah dapat menggunakan sarana elektronik, misalkan dengan telpon, televisi, ataupun radio, sekaligus sebagai sarana untuk promosi pendidikan.


6. Studi Kasus

MA Ma’arif NU adalah salah satu lembaga pendidikan yang terdapat di kota Blitar, didalamnya terdapat Madrasah Aliyah, Madrasah Tsanawiyah dan juga pondok pesantren Nurul Ulum, semua siswa diwajibkan tinggal di pondok pesantren tersebut. Dalam melakukan usaha mengakrabkan antara sekolah dengan masyarakat ada beberapa hal yang dilakukan oleh sekolah, diantaranya:

a) Setiap akhir semester pihak sekolah mengundang semua wali murid dan pembagian rapot dibagikan langsung kepada wali murid.

b) Setiap sebelum murid-murid melakukan ujian akhir sekolah semua wali murid di undang beserta masyarakat sekitar untuk mengadakan istighosah bersama.

c) Setiap akhir tahun sekolah mengadakan acara muwadaah dalam rangka wisuda murid-murid dan seluruh wali santri beserta masyarakat sekitar sekolah diundang untuk hadir pada acara tersebut.

Selain itu juga masih banyak pendekatan yang dilakukan sekolah dalam rangka pengakraban sekolah dengan masyarakat.

PENUTUP

Demikianlah sedikit uraian tentang manajemen humas, dan ini tidak berlaku di sekolah formal saja namun juga bisa diterapkan di pondok pesantren. Tentunya tulisan ini masih sangat jauh untuk mengungkap secara detail dan sempurna tentang manajemen humas. Untuk itu penulis yakin makalah ini masih membutuhkan banyak koreksi dan masukan. Sebagai penutup penulis berharap makalah ini dapat memberikan manfaat kepada pembaca



*Penulis: Misbahus Surur (Mahasiswa STAI Ma’had Aly Al-Hikam Malang).




Daftar Pustaka

Bafadhol, Ibrahim. 2005. Dasar-dasar Manajemen dan Supervisi Taman Kanak-kanak. Jakarta: PT Bumi aksara.

Indrafachrudi, Soekarto. 1994. Bagaimana Mengakrabkan Sekolah dengan Orang tua Murid dan Masyarakat. Malang: IKIP.

Mulyasa, Endang. 2007. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Purwanto, Ngalim. 2005. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Suryosubroto. 2004. Manajemen Pendidikan Di Sekolah. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Read On 0 komentar

7 Kesalahan Guru

04.05
Sertifikasi guru yang sudah dilaksanakan seakan-akan menjadikan guru sudah dapat memenuhi kewajiban yang dipikulnya. Hal itu hanyalah salah satu cara agar guru itu profesional. Kewajiban yang dibebankan guru ketika menggunakan aturan angka kredit adalah 18 jam, hal itupun belum mendorong guru lebih meningkatkan kreatif guru dalam mengajar. Hal itu dapat diliha dari jenjang kenaikan melalui kredit poin yang begitu cepat sehingga akan terjadi penumpukan kepangkatan di jenjang golongan IVa. Karena selama ini dalam istilahnya pangkat jendral gaji kopral, gaji yang diterima masih kalah besar dibanding dengan 2 ataupun 3 yang bekerja dikantor yang mempunyai jabatan struktural. Hal itulah yang membuat guru mengajar melakukan hal-hal menjadikan 7 kesalahan guru diantaranya:

1. Mengambil jalan pintas dalam pembelajaran

2. Menunggu siswa untuk berperilaku negatif

3. Menerapkan disiplin tidak pada tempatnya

4. Mengabaikan perbedaan peserta didik

5. Merasa paling pandai

6. Diskriminasi

7. Memaksa hak siswa
Read On 0 komentar

Tantangan-tantangan Pendidikan di Masa Mendatang

04.01
Saat ini kita telah memasuki abad ke-21. sebagaimana disebut banyak orang, abad ke-21 adalah milenium baru yang akan membawa kita ke arah dunia yang semakin kompleks dan saling ketergantungan (interdependence). Dikatakan juga bahwa perubahan yang akan terjadi dalam bentuk nonlinear, tidak bersambung (discontinuons) dan tidak bisa diramalkan. Masa depan merupakan suatu ketidaksinambungan (a series of discontinuities). Kita memerlukan pemikiran ulang dan rekayasa ulang (reengineering) terhadap masa depan tersebut. Kita harus berani meningggalkan pemikiran dan cara-cara lama yang kurang cocok dan tidak produktif. Kesemua pernyataan tersebut menggambarkan kekhawatiran dunia akan kekurangan kita dan juga merupakan dorongan untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi globalisasi.
Sekarang ini dunia telah berada dalam kesepakatan bahwa abad 21 diselimuti oleh alam perdagangan bebas dan globalisasi, di mana kompetisi antar individu, antar Negara dan antar usaha akan semakin tajam. Demikian pula keterbukaan, demokrasi, masalah hak-hak manusia (HAM), hak atas kekayaan intelektual (HAKI), dan masalah lingkungan hidup akan menjadi agenda pokok di abad 21. perdagangan bebas, yang secara formal telah diratifikasi dalam AFTA (2010) dan APEC (2020) akan mengarahkan umat manusia pada ketentuan-ketentuan bekerjanya mekanisme pasar. Globalisasi juga diartikan batas Negara dapat dikatakan hampir tidak ada; globalisasi disebut pula era informasi dan keterbukaan, era liberalisasi, pasar bebas dan kompetisi global. Juga era kerja sama regional dan global.

Timbulnya kelompok-kelompok perdagangan antar Negara yang cenderung menerapkan diskriminasi perdagangan bagi anggota seperti Negara-negara Amerika Utara membentuk North America Free Trade Area (NAFTA), Negara-negara Eropa telah membentuk pasar bersama Eropa (European Economic Community – EEC), dan negara ASEAN telah pula membentuk Asean Free Trade Area (AFTA), dan Negara-negara Asia Pasifik telah pula membentuk Asean Pasific Economy Corporation (APEC). Walaupun demikian pada dasarnya semua Negara tersebut tetap ingin menjaga kepentingan nasional masing-masing.

Meskipun globalisasi menciptakan kecenderungan untuk peningkatan kerjasama internasional dan regional, ternyata kepentingan nasional setiap bangsa masih tetap kuat juga. Dalam era persaingan ini setiap Negara berusaha mewujudkan kemakmuran ekonomi dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang menyebabkan perubahan ekonomi masyarakat, perubahan tata kehidupan dan prilaku manusia. Dimana manusia makin cerdas, professional dan trampil mengolah alam dan lingkungan hidup bagi kebutuhan hidupnya. Namun tanpa disadari telah muncul pula penurunan kualitas kepribadian manusia. Bersamaan dengan ikut kepentingan nasional sebaik-baiknya melalui berbagai cara antra lain melalui jalur diplomasi, dengan kekuatan ekonomi atau militer, bahkan juga kebudayaan menjadi sarana yang penting. Walaupun persaingan tersebut lebih berbobot ekonomi, namun kesemuanya ditentukan oleh dukungan kekuatan dan kemampuan SDM Negara itu sendiri. Oleh karena itu persaingan antar bangsa, banyak sekali ditentukan oleh keberhasilan mereka menciptakan kekuatan dan kemampuan manusia dan masyarakat, baik dalam arti spiritual, mental, intelektual, teknologi maupun fisik. Oleh karena itu pendidikan, budaya, ikut terlibat dalam persaingan tersebut.

Globalisasi yang telah membawa kemakmuran ekonomi dan kemajuan iptek, telah pula membawa dampak krisis spiritual dan kepribadian, sehingga lebih memunculkan kesenjangan dan kekerasan social, ketidak adilan dan demokrasi. Sementara itu madrasah yang selama ini lebih menitikberatkan kepribadian, dianggap kurang berhasil dalam meningkatkan kecerdasan, keterampilan dan profesionalisme. Tantangan inilah yang dihadapi madrasah memasuki abad ke-21. Bagaimana agar SDM yang disiapkan madrasah berkualitas dan mampu bersaing, yang ditandai dengan lulusan madrasah yang cerdas, trampil, professional dan berkepribadian (berakhlak/bermoral).

Demikian juga isu demokratisasi dan liberalisasi telah dan akan menjadi tantangan bagi dunia pendidikan Islam. Sehingga hal ini harus benar-benar disikapi secara benar dan tepat, agar tujuan pendidikan Islam senatiasa terjaga yaitu untuk membimbing umat manusia agar menjadi hamba yang bertaqwa kepada Allah yakni dengan cara melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh kesadaran dan ketulusan hati
Read On 0 komentar

Arsip Tulisan


Masukkan Code ini K1-36DCA9-9
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Followers